KALA POLITIK ITU INDAH DAN MENSEJAHTERAKAN (226) Oleh Ahmad Rofiq

Assalamualaikum wrwb.
Segala puji hanya milik Allah. Mari kita syukuri segala anugrah dan kenikmatan yang kita terima dari Allah, yang pasti kita tidak mampu menghitungnya. Karena anugrah dan kasih sayang-Nya kita sehat afiat dan dapat melaksanakan kegiatan kita sesuai dengan keahlian dan ilmu yang diberikan-Nya juga pada kita. Dengan ilmu-Nya kita mendapatkan rizqi untuk hidup kita dan persiapan bekal kita di akhirat nanti.
Shalawat dan salam mari kita wiridkan untuk Baginda Rasulullah saw. Semoga tercurah pada keluarga, sahabat, dan pengikut beliau yang makin istiqamah meneladani beliau. Semoga semua urusan kita lancar dan dimudahkan oleh Allah, dan kelak di akhirat kita akan mendapat perlindungan syafaat beliau.
Saudaraku, kita semua pasti memahami dan menyadari bahwa manusia itu memang makhluk politik. Kata Aristoteles, zoom politicon. Ada yang bilang homo socius atau hayawan siyasiyy. Karena memang manusia diciptakan oleh Allah, harus dan butuh bermasyarakat, bersosialisasi, dan berpolitik. Merefer pada QS. Al-Hujurat: 13, “Wahai manusia, sesugguhnya Kami (Allah) menciptakan kamu sekalian terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.
Agar manusia dalam hidup bersosial atau bermasyarakat itu berjalan dengan baik, maka Islam melalui Rasulullah saw. menganjurkan, agar ketika kita bepergian lebih dari tiga orang, spaya memilih salah satu menjadi pemimpin, seperti hadits berikut:
عَنْ ‏أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ‏: ‏أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏قَالَ ‏: ‏إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ . رواه أبو داود (2708) .
‏عَنْ ‏أَبِي هُرَيْرَةَ ‏: ‏أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ‏: ‏إِذَا كَانَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ . ‏قَالَ ‏نَافِعٌ ‏: ‏فَقُلْنَا لِأَبِي سَلَمَةَ : فَأَنْتَ أَمِيرُنَا ‏. رواه أبو داود (2709)
Riwayat dari Abu Sa’id al-Khudzry, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Apabila tiga orang keluar bepergian maka pilihlah salah seorang dari mereka menjadi pemimpin” (Riwayat Abu Dawud).
Riwayat dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Apabila ada tiga orang dalam bepergian, maka pilihlah menjaid pemimpin salah seorang dari mereka”. Nafi’ berkata, maka kami berkata kepada Abu Salamah, “maka kamu pemimlin kami” (Riwayat Abu Dawud).
Saudaraku, membincang politik rasanya butuh tambahan energi untuk bisa bersabar dan menahan diri. Boleh jadi karena saya memang tidak “berbakat”menjadi “politisi” tetapi senang juga menjadi “pengamat amatiran” terutama di negeri ini. Mungkin memang negara kita  Indonesia ini, dalam soal berdemokrasi, meskipun usia kemerdekaan sudah 72 tahun, ibarat manusia itu, sudah kakek-kakek, tampaknya masih harus banyak belajar. Tidak jarang kita menyaksikan “perseteruan” atau bahasa halusnya “dinamika” di antara para pemimpin negeri kita, sering terlibat “kontestasi” yang di hadapan masyarakat sebagai warga negara, menjadi kurang elok dan kurang indah.
Dalam kehidupan demokrasi, perbedaan pendapat, adalah sesuatu yang niscaya. Karena perbedaan pendapat sesungguhnya adalah bagian dari kasih sayang sesama umat. Boleh jadi memang bangsa ini masih dan sedang terus belajar berdemokrasi, agar bisa saling menghormati. Yang besar atau merasa besar hatus menyayangi yang kecil, yang kecil juga menghormati yang besar. Politik yang kadang terasa “keras” harusnya dibalut dengan kasih sayang, sehingga mampu melahirkan politik keumatan dan kebangsaan yang bermuara pada membahagiakan dan mensejahterakan rakyat.
Politik dalam arti kekuasaan memang cenderung keras dan mahal. Apalagi dalam sistem demokrasi langsung model one man one vote, menjadikan biaya untuk meraih jabatan politik menjadi sangat mahal. Bayangkan saja, jika untuk maju sebagai pasangan calon gubernur di Jawa Tengah, konon harus mampu menyediakan dana sedikitnya Rp 350 milyar. Ini belum biaya yang ditanggung oleh APBD yang kalau tidak salah dipresiksi akan menelan biaya Rp 1 trilyun lebih. Bagi Anda yang pebisnis, tentu akan berhitung kira-kira dana sebesar itu, akan butuh berapa tahun break event point (BEP) atau balik modal. Padahal masa jabatan gubernur hanya 60 bulan. Taruhlah penghasilan gubernur itu mencapai Rp 1 milyar/perbulan, berarti hanya akan ketemu di angka Rp 60 milyar selama lima tahun.
Bagaimana dengan saldo minusnya yang Rp 300 milyar? Kalau misalnya para pejabat tidak memikirkan “modal kembali” wah pasti rakyat sangat senang. Apalagi “semboyan” mboten ngapusi mboten korupsi yang dicanangkan Gubernur dan Wakil Gubernur  Jawa Tengah existing, berarti sebagai warga Jawa Tengah kita bisa “nyicil” ayem. Pertama, tidak ada korupsi di provinsi yang konon menjadi barometer tingkat nasional. Kedua, kita tidak ikut waswas kalau-kalau ada bupati atau walikota yang tertangkap “basah” operasi tangkap tangan (OTT) KPK.
Tentu ini hanya “grundelan” orang yang tidak faham “dunia politik kekuasaan” yang mungkin menjanjikan prestise, wibawa, dan tentu obsesi seseorang yang ingin mensejahterakan rakyatnya, dan ingin menghapus kemiskinan yang di Jawa Tengah angkanya cukup tinggi, melebihi rerata angka kemiskinan secara nasional.
Saudaraku, politik itu bisa indah, kalau dijalankan dengan hati nurani dan berorientasi pada kemashlahatan. Akan tetapi politik juga bisa lebih kejam dari pada pedang sekalipun, yang bisa menebas dan melibas lawan atau korban politik. Hampir sama juga, antara pemberontak dan pejuang atau pahlawan. Seseorang yang dengan gigihnya memperjuangkan keadilan, boleh jadi oleh rezim penguasa dipandang sebagai pemberintak. Akan tetapi manakala, apa yang diperjuangkan berhasil, maka pada saatnya ketika rezim berganti, ia akan diposisikan sebagai pejuang atau pahlawan.
Mengakhiri “kegalauan”saya dan mudah-mudahan yang membaca renungan ini juga merasakan kegelisahan yang sama, merindukan politik kekuasaan yang berorientasi pada kemashlahatan rakyat, membahagiakan, dan mensejahterakan rakyat. Penguasa kata orang bijak, adalah pelayan warga (kaum)-nya dan giliran minumnya paling akhir. امير القوم هو خادمهم واخرهم شربا . Jika kemudian, masih ada saudara-saudara kita yang belum beruntung, dan masih dalam posisi kemiskinan, maka rasanya para pejabat dan pemimpin rakyat, yang paling harus bertanggung jawab, baik di hadapan rakyat maupun di hadapan Allah.
Tentu tidak ada pretensi untuk menyalahkan para pejabat. Karena ini tanggung jawab semua. Namun jabatan yang diterima sebagai amanat rakyat, harus dijalankan dalam rangka mewujudkan kemashlahatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan rakyat. Karena seorang pemimpin dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu.
Kita doakan para pemimpin di negeri ini, khususnya di Jawa Tengah, dapat lebih amanah, dan memikirkan rakyatnya menjadi bisa hidup nyaman, sejahtera, dan bahagia. Yang angkatan kerja, mendapatkan lapangan pekerjaan. Dengan bekerja mereka dapat gaji, dan bisa memulai hidup mereka dengan optimis menagap masa depan mereka. Dan politik itu pun ternyata menjadi indah dan membahagiakan. Bukan sebaliknya, seperti yang pernah dikatakan ulama Mesir, na’udzu biLlah min as-siyasah. Karena hidup ini memang bagian dari proses “politik” kehidupan menuju kebahagiaan yang sejati.
Allah a’lam bi sh-shawab.
Grand Mercure Harmoni-Bandara Soekarno Hatta, 5/10/2017.