ISLAM AGAMA YANG DAMAI / Oleh :Dr. H. Abdul Muchayya, MA. *)

kepada saudara-saudaraku seiman dan seagama, marilah kita bersyukur ke hadirat Allah swt, kita tingkatkan kesyukuran kita dengan cara menggunakan seluruh kekuatan yang telah diberikan oleh Allah swt dan kita gunakan untuk hal-hal yang diridhoi dan sifatnya mengagungkan Dzat yang memberi nikmat yaitu Allah Rabbul ‘aalamiin.

Marilah kita bersyukur kepada Allah swt karena kita telah dianugerahi oleh Allah antara lain :

1)Kita dianugerahi dan dijadikan sebagai manusia dimana dalam perspektif Islam manusia memiliki kedudukan yang sangat tinggi dibanding dengan makhluk-makhluk yang lain. Di samping itu, kita juga ditunjuk oleh Allah swt sebagai bukti kemuliaannya yakni sebagai khalifatullah fil ardh dalam rangka meramaikan, merayakan bumi dan dunia ini menjadi taman surgawi. Oleh karena itu marilah kita secara bersama-sama berupaya untuk menciptakan kedamaian, keselarasan, serta keamanan di negara kita. Dan sebagai pemeluk Islam maka kita mesti tahu bahwa agama yang kita peluk ini adalah agama kasih sayang karena Rasulullah saw diutus oleh Allah adalah dalam rangka menebar kasih sayang di antara sesama bahkan untuk seluruh alam, sebagaimana firman Allah yang artinya :

 “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al Anbiya’/21 : 107)

Oleh karena itu mari kita wujudkan dan tebarkan kasih sayang ini di manapun kita berada, secara individu kita harus mampu menciptakan situasi yang aman dan mampu membawa serta memiliki nilai-nilai yang di dalamnya terdapat rasa “kasih sayang”. Rasulullah saw juga mengatakan melalui sabda beliau yang maksudnya : “Tebarkanlah kasih sayang di bumi ini, sebagaimana kita kelak akan dikaruniai kasih sayang oleh Allah swt”.

Mari kita pelajari bagaimana kala itu Rasulullah saw mengimplementasikan, mewujudkan, dan sekaligus menerapkan nilai-nilai ke-Islaman secara tepat. Ketika beliau didaulat menjadi pemimpin di Madinah melalui baiat pertama dan kedua lantaran terjadi musyawarah yang deadlock, kabilah satu dengan yang lain saling serang yang terjadi hampir setengah abad lamanya. Maka kemudian para pemimpin kabilah tersebut mencari seorang pemimpin yakni Rasulullah saw melalui baiah aqobah.

Apa yang kemudian terjadi setelah Rasulullah saw secara aklamasi diangkat menjadi pemimpin, dimana saat itu Madinah masyarakatnya bersuku-suku, agamanya tidak hanya satu, ada agama Yahudi dan bahkan ada yang masih musyrik. Rasulullah kemudian membuat “Piagam Madinah” dimana inti dari Piagam Madinah tersebut adalah bagaimana menciptakan kedamaian, keselarasan, dan keamanan masyarakat Madinah secara menyeluruh. Jika kita telaah secara mendalam Piagam Madinah berisi antara lain : sekecil apapun masyarakat di Madinah, keberadaannya sangat dihargai oleh Rasulullah saw. Dalam beragama Rasulullah saw juga memberikan keleluasaan kepada masyarakat Madinah untuk menjalankan agamanya masing-masing, tentu saja bagi yang beragama Islam beliau juga memerintahkan untuk menjalankan agamanya secara maksimal. Ini adalah situasi normal dimana saat itu tidak ada goncangan di kota Madinah sehingga masyarakat kala itu menjadi masyarakat yang sangat beradab karena antara satu dengan yang lain saling tolong menolong, saling hormat menghormati, tidak saling mencela tetapi saling memberikan nasehat dalam hal kebajikan.

2)Rasulullah saw telah mampu menjadikan hijab antara Makah dan Madinah menjadi masyarakat yang Islami. Pada tahun ke-2 setelah Fathu Makkah Rasulullah melaksana-kan Haji Wada’, dimana saat Rasul melaksanakan haji Wada’ kota Madinah telah mampu ditaklukkan. Lalu pesan apa yang disampaikan oleh Rasulullah ketika melaksanakan haji Wada’ ?. Beliau menegaskan : “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Tuhan kamu adalah satu, bapak kalian adalah satu”, artinya bahwa kita ini adalah anak cucu Adam yang diciptakan oleh Allah dari tanah. Maknanya tidak lain bahwa Nabi mengakui eksistensi manusia hakikatnya sama, beliau juga menegaskan : ”Wahai manusia, sesungguhnya darah kalian, harta, dan harkat martabat kalian sungguh sangat mulia”.Oleh karena itu, di dalam Islam seseorang tidak boleh dengan mudah memberikan judgments bahkan menghalalkan darah sesamanya, Islam justru memberikan jaminan keselamatan kepada siapapun karena manusia adalah makhluk mulia sehingga dijadikan sebagai oleh Allah sebagai “khalifatullah fil ardh”.

Agama Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian dan kedamaian, santun dan saling menghormati dengan agama lain. Oleh karena itu, mari kita jaga kedamaian dan keselamatan dunia ini, karena Islam sangat cinta dengan “damai”. Allah swt juga bersumpah sebagaimana firman-Nya yang artinya :

“Dan demi kota (Mekah) ini yang aman”.

Nabiyullah Ibrahim As setelah membangun Ka’bah, beliau berdo’a ke hadirat Allah swt dimana do’a beliau lebih menekankan pada kedamaian, yakni :

Dalam do’a ini beliau mengajarkan kepada kita bahwa kedamaian dan keamanan sungguh sangat mahal harganya melebihi mahalnya rizki atau ma’isyah yang kita kejar dan terima dari-Nya. Apalah artinya uang banyak namun kedamaian tidak kita dapatkan dan justru terancam keselamatan kita, setinggi apapun jabatan yang kita emban tetapi manakala keamanan dan kedamaian tidak terjaga, maka jabatan tersebut tentu tidak dapat kita nikmati, sekuat apapun rumah ataupun gedung yang kita bangun manakala rasa aman dan damai tidak ada maka kita tidak akan mampu merasakan kenyamanan tinggal di dalamnya.

Sebagai umat Islam yang cinta damai dan selalu menebarkan keselamatan bagi siapapun maka marilah kita perbanyak do’a agar kedamaian dan keselamatan senantiasa tercipta di muka bumi ini, sahabat-sahabat kita juga selalu dalam keadaan selamat lahir batin, sebagaimana do’a dalam shalat yang selalu kita lantunkan : “Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibaadillahi as shaalihiin”.

Oleh karena itu, jika kita beda pendapat dengan sesama muslim, mari kita sikapi secara dewasa dan jangan terlaluemosional karena agama Islam adalah agama yang mengedepankan kedamaian. Kita jangan kerdil di dalam beragama, apalagi mudah marah dan tersinggung, justru mari kita tonjolkan sifat akhlakul karimah, damai dengan siapapun, menebar rasa kasih sayang kepada seluruh makhluk di alam semesta ini. Insya-Allah jika kita mampu menebarkan kedamaian di manapun, maka Islam di masa depan akan menjadi Islam yang “ya’lu walaa yu’la alaih” dan ini adalah PR kita bersama. Sebagai umat Islam mari kita bersama-sama menjaga kedamaian, keamanan dan menebar kasih sayang di muka bumi inisehingga Islam kelak menjadi garda terdepan penggerak kedamaian.

Mudah-mudahan Allah swt senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita mampu berdakwah dengan menunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama damai. Aamin ya Rabbal ‘aalamiin. *****

========================

*)Dr. H. Abdul Muchayya, MA.; Ketua Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah &Dosen Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang