IMAN DAN TANTANGANNYA Oleh : Dr. HM.Navis Junalia, MA. *)

Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal 15 Nopember 2013 M / 11Muharram 1435 H

Bersama-sama marilah kita melakukan muhasabah dengan bertanya pada diri kita masing-masing, adakah pertambahan usia kita yang berarti kematian akan semakin dekat sudah menghantarkan kita menjadi hamba yang makin baik ataukah makin buruk, fikiran kita adakah semakin bisa menangkap kebesaran Allah yang digelar di alam semesta ini ataukah semakin tidak mampu menangkap hikmah, sikap kita adakah semakin merepresentasikan al akhlaqul mahmudah (perilaku dan sikap yang terpuji) ataukah justru semakin lama semakin banyak hiasan sikap yang tercela, tindakan-tindakan kita adakah semakin banyak mewujudkan al a’mal as shalihah (perilaku yang baik) ataukah justru makin lama makin banyak perilaku-perilaku buruk dan pada akhirnya kita akan bertanya adakah kita semakin dekat dengan Allah ataukah justru semakin jauh dari-Nya.

Pertanyaan-pertanyaan yang amat ini terasa begitu penting dalam rangka untuk memper-kokoh kwalitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt, sekiranya kita mampu mendapatkan nilai-nilai positif yang pada gilirannya kita mampu mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari maka pantaslah kita menjadi hamba Allah yang tergolong di dalam Al Muttaqin (orang-orang yang bertakwa) kepada-Nya. Dalam bahasa yang lain, Al Muttaqin adalah kekasih-kekasih Allah di mana kelak akan dijanjikan akan memperoleh Al Busyra fil khayatid dunya wal akhirah (kehidupan yang sejahtera dan bahagia di dunia dan akhirat), sekaligus mendapatkan ridho dari Allah swt.

Kwalitas seperti itu tentunya tidak begitu mudah sebagaimana kita membalikkan telapak tangan, kwalitas ketakwaan senantiasa perlu kita perjuangkan dan terus menerus kita tingkatkan, kenapa demikian ? karena setiap usaha seorang hamba untuk melaksanakan dan meningkatkan kebaikan maka pada saat yang sama Allah memunculkan tantangan-tantangan. Peningkatan kwalitas ketakwaan akan berjalan seiring dengan peningkatan tantangan, semakin tinggi kwalitas kebaikan seseorang semakin tinggi pula tantangan yang akan dihadapi. Dan ketika berbicara soal tantangan ini, seringkali umat Islam hanya melihat tantangan yang berdimensi negative dan sering diterjemahkan menjadi cobaan-cobaan Allah, tetapi sungguh Allah swt memberikan keterangan kepada kita bahwa tantangan itu bukan hanya dalam konteks hal-hal yang bersifat negatif tetapi tantangan juga akan berupa sesuatu yang positif dan menyenangkan.

Firman Allah dalam surat Al Anbiya’/21 : 35 yang berbunyi :

‘Artinya : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan”.

Setiap diri akan mengenyam dan mencicipi kematian, setiap orang memiliki batas masing-masing dan batas itu sudah ditetapkan oleh Allah, tidak ada yang mampu menghindar, semakin dia lari kematian tetap akan menjemput dan pada saatnya orang akan sampai pada titik akhir dimana dia tidak akan mampu berbuat apa-apa. Allah menegaskan : Dan sungguh di dalam arena ini dalam rangka engkau menjadi kekasih-Ku maka akan Aku coba beri jalan dan tantangan, yakni :

1) Asy Syar (tantangan yang berupa keburukan); hal-hal yang tidak enak dan tidak diharap-kan;

2) Al Khoir (tantangan yang berupa kebaikan).

Ke-2 (dua) tantangan ini bersifat “fitnatan” (sebagai suatu ujian, saringan/filter) siapakah di antara mereka yang pantas untuk mendapatkan titel kekasih Allah dan siapa di antara mereka yang hanya berkwalitas imitasi/tiruan saja.

Dalam firman Allah yang lain bahkan mendapatkan keterangan yang lebih menohok, yakni :

Artinya : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi ?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al Ankabut/29 : 2-3)

Jangan sekali-kali manusia berkesimpulan bahwa mereka telah beriman kepada Allah, kemudian mereka tidak akan mendapatkan cobaan dari-Nya, sungguh Allah telah menguji orang-orang sebelum mereka dengan maksud supaya Allah mengetahui secara pasti siapakah di antara mereka yang baik dan berdusta.

Ujian dalam hal ini bersifat natural dan rasional, siapapun dan di manapun kita berada ketika hendak memilih sesuatu yang baik maka senantiasa dia ada di dalam proses tahapan penyaringan dan logika ini oleh Allah dari awal sudah ditetapkan, Allah menyatakan : Siapakah di antara mereka yang baik pasti Aku akan memberi balasan dan siapa yang gagal mewujudkan kebaikan maka konsekwensinya mereka akan menerima akibat dari perbuatan yang ia lakukan.

Oleh sebab itu, maka perlu kita tangkap dan baca dengan tepat bahwa persoalan-persoalan kehidupan ini pada hakikatnya adalah merupakan cobaan dan mari kita lihat dimensi-dimensi yang secara simbolik ditunjukkan oleh Allah agar kita perhatikan dan menjadi atensi kita bersama. Pada surat Al Baqarah/2 : 155 yang berbunyi :

Artinya : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Dalam ayat ini Allah swt menggunakan 2 (dua) penekanan berupa lam taukid dan nun taukid yang maksudnya bahwa Allah swt benar-benar ingin mencoba engkau sekalian dan cobaan itu oleh Allah, yakni :

1) Al Khouf (rasa takut)untuk melaksanakan kebenaran; ketika jiwa mengalami sebuah ketakutan, kegamangan, dan keragu-raguan yang pada akhirnya orang tidak berani melaksanakan kebenaran walau dia tahu persis bahwa hal itu adalah sebuah kebenaran karena khawatir masa depannya terancam ekonomi maupun karirnya, maka pada saat itu orang ada di dalam sebuah dialog batin yang sangat serius, adakah saya akan memenang-kan kebenaran atau justru larut di dalam kemaksiyatan.

Perasaan-perasaan galau dan tidak mantap yang berujung pada perasaan takut dan khawatir adalah sebuah tantangan yang serius dan penyakit ini sekarang mulai banyak dirasakan oleh manusia-manusia modern yang hidup pada daerah yang penuh dengan kemajuan dan banyak mengalami persoalan keterpecahan kepribadian yang berujung pada rasa takut dalam menghadapi hidup ini, khawatir bahwa dia tidak bisa eksis karena tantangannya lebih besar dari kemampuan yang ia miliki dan pada saat yang sama cita-cita yang ia idam-idamkan seringkali jauh dari kenyataan sebagaimana yang ingin dia raih.

Konflik-konflik batin seperti ini menjadi sebuah tantangan yang cukup serius bagi seorang yang beriman.

2) Al Ju’ (kelaparan); tidak terpenuhinya kebutuhan biologis/hidup manusia yang disimbulkan dengan kepalaran, hal ini seringkali menerjang pada setiap orang beriman dan ujung-ujungnya keimanan menjadi luruh, menipis, dan bahkan hilang gara-gara situasi terterpa dalam kelaparan yang amat sangat. Sungguh ini menjadi tanda yang sangat menarik di saat seperti sekarang ini, kelaparan hampir terjadi di berbagai belahan dunia dan sungguh keimanan ada dalam suasana yang bergoyang-goyang.

3) Wanaqsin minal amwaal; ada penurunan/penyusutan asset ekonomi yang dimiliki oleh seseorang, al amwaal adalah harta benda yang dimiliki mengalami penyusutan nilai sehingga dapat terjadi pagi kaya sore miskin atau sebaliknya sore kaya pagi menjadi miskin. Penurunan kwalitas ekonomi seseorang yang semula serba berkecukupan kemudian menjadi kekurangan adalah sebuah badai yang dahsyat dan seringkali harus berhadapan dengan pertanyaan : apakah iman seseorang mampu dipertahankan atau tidak ?.

Dalam kenyataannya dapat kita lihat bahwasannya persoalan-persoalan yang terkait dengan penyusutan ekonomi banyak orang menjadi bingung, mereka merasa ekonominya terancam, masa depan menjadi gelap dan seolah-olah sudah tidak ada lagi kekuasaan Allah yang pada akhirnya orang mengalami patah semangat dan tidak mustahil orang akan melakukan bunuh diri. Fenomena bunuh diri ini di beberapa kota besar di dunia ini kian hari semakin marak , hal ini dikarenakan mengalami penurunan dari kondisi ekonomi yang serba lancar menjadi sulit, yang semula serba terbeli menjadi tidak terbeli dan seterusnya.

4) Al Anfus; penurunan kwalitas diri yang ada pada diri manusia, diri bisa berarti kwantitas (jumlah) anggota keluarga dipanggil oleh Allah swt, namun dapat berarti penurunan kwalitas fisik seseorang yang semula gagah dan ganteng berubah menjadi lemah tidak berdaya. Dalam situasi seperti ini seringkali orang menjadi hilang harapan, asa menjadi terbang dan akhirnya keimanan-pun menjadi melayang.

5) Ats Tsamarat (buah-buahan); ini dapat kita maknai bahwa dalam konteks masyarakat Arab perkebunan adalah sebuah usaha produktif yang sangat prestisius, dalam bahasa sekarang usaha-usaha produktif (ekonomi/bisnis) yang dilakukan seseorang ternyata tidak menghasilkan, justru asset produksi yang ada juga menjadi berkurang. Ini sebuah tantangan yang diisayaratkan secara simbolik oleh Allah swt dan seringkali menjadikan seseorang tergoncang kwalitas keimanan dan ketakwaannya.

Namun di balik itu Allah swt juga menerangkan tentang “Al Khair”, tantangan ini juga terkait dengan situasi yang indah dan bagus, seseorang yang karirnya terus menanjak, memiliki harta yang berlimpah, ilmunya semakin tinggi, kekuasaannya semakin luas, dan pengaruhnya tak terbantahkan, situasi seperti ini seringkali tidak dibaca oleh manusia sebagai sebuah tantangan dan menjadikan lupa diri yang akhirnya dia merasa sombong, tidak menghargai orang lain dan pada akhirnya kwalitas kesyukuran kepada Allah menjadi kecil bahkan menghilangkan kekuasaan Allah swt karena sudah merasa yakin akan kemampuan dirinya untuk menyelesaikan semua persoalan. Naudzu billahi min dzalik.

Kebaikan-kebaikan seperti ini layak untuk kita cermati, bukan berarti Islam anti tetapi Islam menekankan betul perlunya kita memahami bahwa setiap kenikmatan yang positif seperti ini mesti harus dimenej/dikontrol dengan baik dalam rangka untuk mencapai ridho Allah swt, menyebar luaskan kebaikan, menciptakan kemaslahatan umum, membantu mereka yang lemah dan terdzalimi, mengentaskan mereka dari kemiskinan dan lain sebagainya dan mestinya seperti itu yang mesti dilakukan oleh mereka yang berada dalam garis yang berlebih ini.

Dan Allah memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, siapakah orang yang sabar itu ? Firman Allah yang berbunyi :

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. (QS. Al Baqarah/2 : 156)

Sekiranya orang ditimpa oleh situasi yang menyedihkan, menyusahkan, dan serba tidak enak maka dia tetap berdiri tegak memegang kebenaran, dia tetap yakin betul bahwa kita adalah milik Allah dan hanya kepada Allah kita ini kembali, dia tidak akan tercerabut kecerdasan spiritualnya, tidak akan melayang keimanannya oleh situasi yang amat sulit dan pada saat yang sama orang-orang yang diberi kelebihan oleh Allah tetap sadar bahwa ini semua adalah amanah-Mu, akan aku tunaikan amanah ini dengan sebaik-baiknya dan sekiranya aku gagal dalam menunaikan amanah-Mu aku mohon maaf dan selalu aku mohon bimbingan-Mu guna mendapatkan petunjuk-Mu sehingga amanah ini tidak berubah menjadi sesuatu yang khianat dan faktor yang mengundang adzab-Mu dan sungguh kenikmatan ini hanya pantas aku kembalikan untuk mengabdi kepada-Mu.

Sungguh indah sekiranya kita mampu melakukan hal ini dan kita terus berdoa kehadirat Allah, semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki keteguhan jiwa, kekokohan tempat berdiri untuk mempertahankan kwalitas iman dan takwa sehingga pada saatnya kita akan kembali menjadi kekasih-kekasih Allah swt. Amin ya Rabbal ‘alamin. *****

=====================

*) Dr. HM. Navis Junalia, MA.; Dosen Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang

Leave Your Comments

Your email address will not be published.

Copyright 2021, All Rights Reserved