IDUL ADHA: REFERENSI PENDIDIKAN KARAKTER ANAK Oleh: Syamsul Ma’arif

Setiap tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Hari raya ini, dalam realitas sosiologis masyarakat muslim, biasanya sering disebut “hari raya haji”; karena memang berbarengan dengan momentum sebagian umat Islam yang mempunyai kemampuan  (istitha’ah) menunaikan ibadah haji dan sedang melaksanakan wukuf di Arafah.
Sekaligus hari raya ini, terkenal dengan sebutan Idul Kurban.Secara etimologis berasal dari bentukan kata qaruba-yaqrubu-qurban-qurbanan, berarti berupaya untuk mendekatkan. Dalam makna terminologisnya, istilah kurban atau adha (udhiyah), sebagaimana penjelasan Wahbah Al-Zuhaili dalam kitab Al-Fiqh  Al-Islam wa ‘Adilatuhu adalah menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah dalam waktu tertentu.
Karena setelah melaksanakan ibadah shalat Id, biasanya umat Islam di seluruh dunia merayakan dengan menyembelih hewan ternak berupa kambing, sapi, domba, dan unta. Hari raya ini, dapat dijadikan sarana bagi masyarakat muslim yang tidak haji sekalipun, sebagai simbol ketakwaan dan taqarrub kepada Allah. Dalam Alqur’an Allah berfirman: “Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah)” (QS. Alkautsar: 2).
Menurut mayoritas Ulama’, hukum berkurban adalah sunah muakkadah. Berkurban memiliki banyak manfaat; di samping setiap tetes darahnya bernilai ibadah dan meningkatkan ketakwaan, berkurban merupakan manifestasi rasa syukur seorang hamba (‘abid) kepada Allah atas limpahan rizki yang diperolehnya. Sekaligus, berkurban mampu memupuk solidaritas sosial, membantu fakir miskin, dan mewujudkan keadilan.
Jika melirik fakta sejarah, Idul Adha, lekat dengan peristiwa ketakwaan Nabi Ibrahim kepada Allah. yang memerintahkan untuk mengorbankan anak yang sangat dicintainya yaitu Ismail. Meskipun akhirnya, Allah menggantinya dengan sembelihan yang besar  (dzibhin ‘adhim) berupa seekor domba.

Idul Adha dan Pendidikan Karakter
Idul Adha merupakan peristiwa sejarah penuh makna edukatif dan layak diabadikan sebagai sarana “cultural memory” dan proses internalisasi moralitas, yaitu; perlunya menghormati nilai-nilai kemanusiaan, larangan berbuat jahat kepada sesama, dan merendahkan harkat martabat manusia (dehumanisasi). Karena berbuat zalim, menyakiti, dan berbuat kasar apalagi membunuh manusia, sangat dilarang agama Islam.
Bisa dikatakan, Idul Adha merupakan rujukan bagi orang tua agar bisa meneladani kembali Nabi Ibrahim, terutama bagaimana sukses mendidik anak.  Lebih-lebih pendidikan karakter bagi generasi milenial yang terkenal dengan turbulansi moralitas.Sebuah era keprihatinan mayoritas orang tua modern, akibat dampak negatif globalisasi yang telah merubah karakter generasi muda jauh dari nilai-nilai agama. Di saat kebanyakan anak muda sekarang, lebih cenderung bersikap pragmatis-hedonis, individualis, dan terseret pada aliran-aliran yang tak sesuai idiologi dan merusak kebudayaan leluhurnya.
Terbukti Ibrahim berhasil menggembleng pribadi Isma’il muda  mempunyai sikap ketaataan, kelembutan, dan spiritualitas tinggi. Sehingga sebagai anak, Isma’il bisa “mikul duwur mendem jero” atau bisa memuliakan orang tua dan menghormati tradisi yang berkembang. Sebagaimana telah tergambarkan begitu nyata dalam Al-qur’an; “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” (Q.S. Ash-Shaffat: 102). Maka, ketika Ibrahim menceritakan mimpinya diperintah Allah untuk membunuhnya, Ismail pun dengan gagah berani menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu: insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (Q.S. Ash-Shaffat: 102).
Memperhatikan dialog intensif antara Ibrahim dan Isma’il dalam ayat tersebut, betapa pendidikan karakter yang diterapkan Ibrahim lebih mendahulukan sikap membiasakan percontohan yang baik pada putranya serta kaumnya (uswah hasanah). Meskipun sebagai orang tua, yang mempunyai struktur dominan, tidak serta merta menggunakan kekuasaannya untuk menekan atau memaksa Isma’il. Seolah-olah,  meminjam ungkapan Paulo Freire dalam buku Pedagogy of Freedom: Ethics, Democracy, and Civic Courage–Ibrahim tak melakukan penindasan atau penjinakan yang menggiring anak ke arah ketaatan bisu dan dipaksa diam. Melainkan, Ibrahim memposisikan anaknya secara equal, setara, dan dianggap sebagai partner dalam mencari kebenaran.
Karena model pendidikan Ibrahim sangat humanis, memuliakan, dan memberikan penghormatan pada anak. Wajar, jika berdampak pada putranya secara langsung, meskipun tergolong masih berumur muda, Isma’il telah menunjukkan rasa penghormatan dan baktinya kepada orang tuanya.
Selain itu, meskipun kapasitas Isma’il sebagai seorang anak, ia mampu menempatan secara kritis dan proposional ketika berkomunikasi kepada Ibrahim. Tampak sekali, bagaimana ia memiliki kecerdasan luar biasa, sehingga mampu memberikan alternatif pemecahan terhadap masalah dan kegalauan  yang sedang dihadapi orang tuanya. Bahkan Isma’il, bisa menyakinkan kepada orang tuanya  yang sempat ragu (semacam reinforcement)–agar merealisasikan apa yang menjadi perintah Allah dengan penuh keimanan. Serta membuktikan kepada Ibrahim, kalau dia termasuk orang yang taat dan sabar terhadap perintah Allah.
Keberhasilan mendidik anak cerdas, berkarakter salih dan mulia seperti Ismail, patut menjadi model dan rujukan bagi orang tua di era sekarang. Turutama sekali, proses mendidik anak berkepribadian baik (akhlakul karimah), pasti tidak instan dan  ‘bim salabim’. Butuh keseriusan, keuletan, riyadhah, do’a, dan sekaligus uswah hasanah.Terdapat peribahasa yang berbunyi “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Dengan begitu, karakter anak sesungguhnya mencerminkan karakter orang tua, bukan?
Jika dilihat dari prespektif teori fungsional struktural, bahwa keberhasilan pendidikan anak pasti didukung oleh hubungan harmonis antara sub-sub sistem yang saling terkait; antara orang tua, masyarakat, dan pendidikan. Meminjam teori Talcot Parsons, Ibrahim telah mengkodisikan Ismail dalam sebuah sistem imperatif fungsional, melalui berbagai proses:
Pertama, adaptasi. Ibrahim telah menciptakan keluarga dan lingkungan agamis bagi Isma’il untuk bisa menyesuaikan, beradaptasi, dan mengikuti nilai-nilai atau norma agama dan masyarakat. Semenjak kecil, Isma’il telah diperkenalkan perintah-perintah Allah yang harus ditaati.Sebagai orang tua, Ibrahim mengerti betul ilmu pedagogi bahwa; Isma’il ketika masih berada pada masa emas anak (golden age), telah ditancapkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Kedua, pencapaian tujuan. Proses pendidikan karakter yag diterapkan Ibrahim kepada Isma’il semenjak kecil  mempunyai tujuan tertentu; terutama agar kelak ia menjadi pribadi yang mempunyai perilaku sesuai dengan nilai dan norma yang ada dalam masyarakat. Meminjam teori pendidikan Ki Hajar Dewantara, Ibrahim sebagai pendidik telah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada Isma’il, agar menjadi manusia dan sebagai anggota masyarakat  yang dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Ketiga, integrasi.Pendidikan karakter yang diterapkan Ibrahim untuk Ismail telah mencerminkan berbagai elemen-elemen yang saling terkait dengan baik; antara keluarga, pendidikan, dan masyarakat.Sehingga dasar-dasar pendidikan yang dipersiapkan tidak tercerabut dari akar kebudayaan masyarakat.Menjadi anak yang integratif dan bermanfaat bagi lingkungan.Bukan menjadi pribadi penuh konflik, baik pada orang tua, teman sebaya, maupun masyarakat. Menanamkan sikap harmoni dan toleran pada anak seperti ini sangat penting, agar kelak ketika dewasa menjadi seseorang yang bisa toleran dan menghormati keragaman pendapat atau kepercayaan orang lain.
Keempat, latensi.Ibrahim telah menciptakan sebuah sistem yang saling melengkapi, memelihara, dan memperbaiki pada tingkat individu maupun pola kultural.Pendidikan yang diterapkan Ibrahim kepada Isma’il tidak hanya mengutamakan pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga sikap dan budi pekerti luhur (transfer of value).
Melalui keempat proses di atas, Ibrahim sebagai orang tua terbukti mampu mendesain sistem pendidikan yang efektif bagi Isma’il. Dengan didukung dengan kurikulum kehidupan, metode pembelajaran yang bertumpu pada dialogis-demokratis, dan lingkungan yang baik. Akhirnya memungkinkan Isma’il bisa tumbuh kembang menjadi pribadi yang mandiri, kritis, dan berkarakter mulia.Pendidikan Ibrahim kepada Isma’il telah memberi kesempatan pada putranya agar bisa berkembang dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar secara baik.
Selain itu, kunci kesuksesan pendidikan  Ibrahim adalah; mengambil peran aktif pada penanaman nilai-nilai agama. Ibrahim sadar, mempersiapkan generasi yang cerdas, kritis, dan bermartabat harus dibangun dengan pembangunan karakter (character building). Inilah faktor kunci keberhasilan pendidikan Ibrahim, sehingga Isma’il  menjadi generasi yang memiliki ketaatan kuat terhadap ajaran agama, berbakti pada orang tua, dan mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

#Penulis adalah pengasuh Pesantren Riset Al Khawarizmi Mijen Semarang