HIKMAH DZULHIJJAH Oleh :Dr. H. Abdul Muchayya, MA. *)

Bulan Dzulhijjah adalah bulan terakhir dalam kalender hijriyah yang merupakan salah satu dari bulan-bulan yang dimulyakan, yakni Dzulqa’dah, Muharram, dan Rajab. Pada masa Rasulullah, banyak pertanyaan seputar bagaimana menyikapi bulan-bulan suci itu.

Dalam Al Baqarah 217 disebutkan: “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah”

Ayat ini disusul surah Attaubah: 36: “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Tentang keutamaan bulan Dzulhijjah, banyak hadis yang menerangkannya. Diriwayatkan dari Said Imam Al Khudry, Rasul bersabda “penghulu utama-utamanya bulan adalah Ramadhan. Yang paling utama kemuliaannya bulan-bulan itu adalah Dzulhijjah”. Sahabat nabi Jabir menjelaskan keutamaan Kemuliaan tanggal 10 Dzulhijjah. “Sebaik-baiknya hari di dunia ini adalah hari ke 10 di awal bulan Dzulhijjah.” Artinya hari yang tengah kita jalani ini memeiliki keutamaan yang luar biasa, maka disunahkan untuk puasa mulai hari ini hingga hari tarwiyah dan arofah ke depan. Dan masih banyak lagi keutamaannya. Maka di bulan yang utama ini, saatnya kita melakukan pekerjaan-pekerjaan yang produktif.

Para pembaca yang budiman..

Dzulhijjah itu disebut sebagai bulan haji. Karena mayoritas ibadah haji dikerjakan di bulan Dzulhijjah, misalnya wukuf di Arofah, mabit di Muzdalifah, Mina, dan prosesi lainnya. Di bulan ini juga ada amalan ibadah yang patut kita renungkan yaitu ibadah qurban dan sholat Idul Adha. Ini semua menggambarkan profil Nabi Ibrahim yang secara ikhlas mengorbankan segalanya  hanya untuk Allah SWT.

Dua ibadah utama itu, yakni Haji dan qurban menggambarkan tentang keikhlasan, pengorbanan dengan mengikhlaskan semua yang dicintainya semata-mata hanya karena Allah. Dalam dalil perintah haji disebutkan: “sempurnakanlah haji dan umroh hanya untuk Allah.” (QS Al-Baqarah: 196 ) “dan hanya karena Allah ibadah haji dilakukan untuk orang-orang yang memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menggapainya.”

Kedua ayat ini dimulai dengan “walillah” dan “lillah” yang menunjukkan bahwa haji diliputi semangat hanya untuk Allah, bukan lainnya. Sehingga kita bisa pastikan bahwa orang yang berangkat haji saat ini, tengah memfokuskan secara total semua pikiran, daya upayanya, kinerjanya, pekerjaannya apapun yang dimilikinya hanya kepada Allah.

Jika aktifitas ini menginternalisasi ke dalam diri manusia, maka akan tergambarkan pola yang sangat indah. Semua urusan dunia, rumah keluarga harta jabatan ditinggal hanya untuk ibadah. Haji adalah sebuah aktifitas recharging internalisasi nilai-nilai positif yang dilakukan bersama-sama. Tidak ada kepentingan individual, semuanya dipersembahkan untuk kepentingan bersama-sama dan Allah. Maka diharapkan sifat-sifat itu yang nantinya dibawa pulang ke tanah air.

Yang kedua adalah ibadah qurban. Qurban juga menggambarkan perjuangan luar biasa seorang nabi Ibrahim. Beliau yang telah lama berdoa menantikan kehadiran sang putra, namun ketika sang putra lahir dan beranjak dewasa, malah diperintahkan untuk menyembelihnya untuk dijadikan qurban.

Dapat dibayangkan betapa sosok nabi Ibrahim tiba-tiba harus mengorbankan anak yang didamba atas perintah Allah. Sebuah keikhlasan yang luar biasa. Sebenarnya ia sedang diuji kualitas imannya, kapasitas kepemimpinannya, dan bagaimana ia memenej keluarganya, karena Allah ingin mengangkat derajatnya.

Para pembaca yang budiman..

Yang bisa kita ambil dari kisah qurban Ibrahim, minimal ada dua: Pertama, mengenang kebesaran jiwa seorang ayah yang ikhlas, rela mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarganya untuk kepentingan Allah. Kedua, mengenang tentang kesabaran, ketaatan, dan birul walidain sang anak, yakni Ismail yang berbakti secara total menerima perintah dan menjalankan amanah dari orang tuanya atas nama perintah Allah.

Faktor inilah yang menggambarkan bahwa qurban itu menjadi ibadah yang ekslusif, karena mengorbankan jiwa raga, harta, untuk kepentingan Allah. Totalitas inilah yang seharusnya menjadi gambaran kita dalam mengorbankan segala macam urusan untuk kepentingan bangsa, negara, dan khususnya mencari ridho Allah. Qurban juga mengedepankan visi pengorbanan, keikhlasan, dan juga solidaritas sosial. Karena dengan qurban itu kita bisa menyebarkan nilai-nilai yang mungkin tidak dirasakan oleh orang-orang yang belum mampu.

Tetapi hari ini perlu kita pahami bersama. Di tengah kompleksitas problem dan tantangan bangsa yang semakin rumit, egoisitas dan individualisme kita yang semakin menggebu-gebu, dan berbagai macam kepentingan kelompok golongan. Saatnya kita mengesampingkan ego-ego individual kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Para pembaca yang budiman…

Mari kita sisihkan ego kita untuk mengurangi persoalan pribadi demi kepentingan bangsa yang sedang berat menjalani kehidupan ini. Karena bangsa ini membutuhkan kebersamaan, solidaritas, dan tanggungjawab sosial kita. Saatnya jiwa-jiwa angkuh individualisme kita pangkas untuk memberikan kemaslahatan kepada umat. Tentu nilai inilah yang harus kita pahami dan kita gelorakan sebagai semnagat memasuki bulan Dzulhijjah. Saatnya nilai-nilai haji dan qurban mewarnai dan menjiwai kehidupan sehari-hari kita.

Mari kita berdoa semoga saudara-saudara kita yang saat ini menjalankan ibadah haji di Mekah Madinah diberikan kesehatan, kekuatan untuk menjalankan haji secara sempurna dan total. Semoga mereka mendapatkan pengalaman spiritual yang luar biasa sehingga mampu dibawa ke Indoneisa sebagai contoh tauladan duta-duta kedamaian, kebangsaan yang menyemai damai dan memberikan kontribusi yang terbaik untuk bangsa dan negara. Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah untuk bisa memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara.

========================

*)Dr. H. Abdul Muchayya, MA.; Ketua Komisi Pembinaan Seni Budaya Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah &Dosen Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang