HARMONI DALAM ISLAM MENUJU MASA DEPAN YANG GEMILANG Oleh : Dr. HM. Navis Junalia, MA. *)

Bersama-sama marilah kita manfaatkan waktu yang penuh barokah ini guna melakukan introspeksi dan kaji diri, adakah usia kita yang semakin hari semakin pendek ini sudah mendekatkan kita kepada Allah SWT ataukah justru semakin jauh, fikiran dan akal kita yang telah dikaruniakan Allah sudahkah kita manfaatkan untuk menangkap sinyal dan tanda-tanda kebesaran Allah, mengungkap rahasia-rahasia ilmu Allah sehingga kita mampu menerjemahkan ke dalam peri kehidupan kita sehari-hari ataukah justru otak kita semakin tumpul sehingga kita semakin tidak menyadari betapa banyak tadzkir/peringatan Allah kepada kita sehingga lupa akan kebesaran-Nya. Kita terus bertanya pada diri kita di manapun kita berada, adakah keberadaan kita sudah mampu menebar amal salih yang bermanfaat bagi kehidupan ataukah justru di mana kita berada kita justru menyaksikan berbagai pertikaian, perselisihan, dan kerusakan. Sungguh, sekiranya introspeksi ini bisa kita terapkan secara konsisten dan istiqamah maka bisa dipastikan bahwa kwalitas ketakwaan kita kepada Allah semakin hari akan semakin kuat dan meningkat, dimana pada saat yang sama benteng kita untuk mampu menahan sekian banyak faktor-faktor destruktif yang akan bisa merusak masa depan kita akan bisa ditutup rapat-rapat. Kualifikasi dan kwalitas ketakwaan seperti inilah yang terus dan perlu kita pupuk serta kita sirami agar keberadaan-nya tumbuh subur sehingga pada saat kita dijemput oleh kematian mampu tersenyum lantaran Allah sudah ridho pada kita, dan dengan sungguh-sungguh kita akan terus berusaha dengan sekuat tenaga sekiranya kita masih berada pada jalur kegagalan maka kita tidak akan pernah terkena penyakit “putus asa”, namun sebaliknya kita terus menyemai semangat agar mampu memperbaiki setiap kesalahan yang pernah kita lakukan.

Kwalitas ketakwaan sebagaimana tersebut di atas membutuhkan piranti/sarana dan kondisi yang memadai, kita membutuhkan suasana yang damai, kita memerlukan peralatan-peralatan yang sesuai dengan tingkat perkembangan teknologi, kitapun juga membutuhkan dukungan-dukungan budaya yang sifatnya positif dan konstruktif sehingga tercipta sebuah tata pergaulan hidup yang serasi, harmoni, dan seimbang. Kita sulit membayangkan ketakwaan kita akan bisa meningkat dalam suasana yang penuh perselisihan dan percekcokan. Kita agak susah menyimpulkan bahwa kita akan mampu meraih ketakwaan yang tinggi manakala antara satu dengan yang lain berada dalam suasana peperangan, kitapun akan sulit membayangkan bagaimana seorang mukmin akan masuk surga sedangkan dia harus meniti sebuah peristiwa-peristiwa yang sulit diwujudkan keimanan tersebut dalam kehidupannya. Itulah sebabnya setiap muslim dituntun oleh ajaran Islam dan diberi teladan oleh junjungan Nabi Besar Muhammad SAW agar kita tidak saja memikir-kan tujuan tetapi sekaligus mempertimbangkan dan menyiapkan fasilitas/media yang akan menghantarkan pada tujuan dimaksud.

Kita sepakat bahwa setiap muslim tidak ada tujuan lain kecuali dalam rangka memperoleh hakikat kenikmatan tertinggi yakni ridho Allah SWT dan implikasinya maka kita akan mendapatkan surga Allah. Ini semua akan bisa dicapai manakala kita mampu membangun “al hasanah fid dunya” (tata kehidupan yang benar-benar baik, sa’adah, sukses dan penuh kesejahteraan), dan untuk itu maka diperlukan wasa’il/wasilah atau sarana-sarana yang akan mampu menghantarkan pada situasi al hasanah wa as sa’adah sebagaimana tersebut di atas.

Satu diantara faktor penting yang diletakkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW bahwa untuk membangun dan menciptakan kehidupan yang memungkinkan seorang muslim mampu meraih ridho Allah adalah dengan mencipatakan tata pergaulan kehidupan yang benar-benar ada dalam suasana yang damai, bagaimanakah Rasulullah membangun suasana yang damai tersebut ? sungguh Allah SWT telah memberi tuntunan yang amat kokoh yakni kita perlu mempertimbangkan faktor-faktor eksternal yang sekiranya akan mempengaruhi peri kehidupan kita sebagai seorang muslim. Faktor-faktor eksternal itu tentu saja berasal dari mereka yang memiliki keimanan yang berbeda dan disebut oleh Al Qur’an dengan term-term yang banyak, salah satu diantaranya adalah Al Kaafirun, Ahlul Kitab dan bahkan secara eksplisit disebut dengan yahuda wa an nashara. Ini semua adalah simbul-simbul potensi kekuatan eksternal yang dimungkinkan akan memberikan pengaruh pada kehidupan umat Islam.

Allah SWT telah memberikan tuntunan yang sangat jelas bahwa dalam menghadapi situasi seperti itu dimana surat Al Kafirun yang sering kita baca dan bahkan sudah sangat hafal ini memberikan landasan penting bahwasannya persoalan akidah sungguh kita tidak akan berkompromi, tidak ada negoisasi persoalan ketauhidan kepada Allah sebagaimana tersurat di dalam firman-Nya yang artinya :

“Katakanlah : “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku”. (QS. Al Kafirun/109 : 1-6)

Tidak ada negosiasi atau musyawarah jika terkait dengan persoalan ketauhidan karena ini soal yang pasti dan sesuatu yang memang harus kita jaga tetapi tidak harus berarti bahwa kita yakin kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa mengharuskan kita untuk mencela atau mencibir bahkan menistakan ketuhanan orang lain. Itulah sebabnya pada akhir surat  Al Kafirun ini Allah SWT menetapkan “lakum diinukum waliya diin” (bagimu agamamu dan bagiku agamaku). Ada garis yang ditarik dengan sangat tegas yakni bahwa agama adalah sesuatu yang privat dan bersifat eksklusif, maka suasana terbaik yang dibangun adalah dengan cara “toleransi” yakni bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Dalam batas garis seperti ini apakah umat Islam lantas tidak boleh berdakwah ? Allah SWT telah memberikan tuntunan sebagaimana termaktub di dalam surat Ali Imran/3 : 64 yang artinya :

“Katakanlah : “Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Allah SWT memerintahkan kepada Muhammad untuk mengajak mereka untuk mencari titik persamaan pada kalimat yang suci (universal) bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan tidak melakukan sekutu (syirik) dan sekaligus tidak berusaha untuk mengkultuskan tokoh-tokoh agama sejajar dengan Tuhan yang disembah. Ini menjadi sinyal bahwa kita tetap perlu mengajak dengan cara yang simpatik, lembut, dan menarik dengan tata bahasa, substansi dan cara yang kita pakai. Islam adalah agama terbaik dan perlu kita sebarkan dengan cara yang terbaik pula.

Dan sekiranya mereka diajak ke jalan yang benar, tidak harus dengan jalan mengutuk tetapi cukup dengan memberikan sebuah komitmen yang tuntas dengan menunjukkan bahwa kami adalah orang-orang muslim yang taat pada ajaran Islam. Ini menjadi hal yang sangat penting tentang bagaimana kita menjalin sebuah komunikasi yang positif agar fihak luar tidak memberikan gangguan yang berarti pada kehidupan kita.

Pada sektor berikutnya, kondisi kondusif dan damai yang mampu menciptakan kwalitas ketakwaan yang hebat menuju ridho Allah adalah muncul dari bangunan yang solid secara internal, hubungan antar umat Islam yang terjalin dengan baik adalah sesuatu yang amat menentukan dan itulah sebabnya Rasulullah secara jitu memberikan tuntunan bahwa orang yang telah menyatakan diri sebagai muslim dan sudah membangun komitmen keimanan hanya kepada Allah maka satu dengan yang lain adalah “saudara/sahabat”. Dan setiap orang yang mengaku sebagai seorang sahabat, maka Rasul menggambarkan dengan “kal jasadil wahid” (laksana tubuh yang satu). Pada hadist yang lain Rasul memberikan tuntunan yang lebih jelas yakni “yasyuddu ba’dhuhum ba’dhan” (laksana satu bangunan, di mana satu dengan yang lain saling menguatkan, memberdayakan, dan saling menjaga kekuatan serta menutup kekurangan).

Hal ini menjadi dasar yang sangat penting bahwasannya sesama muslim tidak ada kalimat saling bercekcok sampai pada suasana yang anarkis, apalagi sampai pada proses bunuh membunuh, tidak ada sebuah kerangka berfikir yang bisa diterima secara holistik apabila sesama muslim terjadi pertumpahan darah. Antara mukmin yang satu dengan mukmin lainnya seperti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh sakit maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasakan. Hal ini menjadi dasar bahwa setiap muslim perlu menyemai, membangun, dan membudayakan tata komunikasi internal atas dasar prinsip-prinsip cinta dan kasih sayang. Cinta dan kasih sayang adalah ekspresi tata pergaulan manusia yang mencerminkan cinta, kasih sayang, satu dengan yang lain saling membantu, mengangkat harkat dan saling menutup segala kekurangannya. Mereka yang sedang berada pada suasana kekurangan maka bagi yang berkelebihan wajib untuk membagi sebagian kelebihannya pada mereka yang kurang.

Kemudian bagi mereka yang hebat lantas tidak menjadi sombong, yang miskin tidak anarkis, tetapi justru mendukung dan menyampaikan do’a positif agar orang-orang kaya memiliki hati yang lembut, memiliki kesadaran yang dalam untuk melakukan kedermawanan sehingga ada suasana-suasana sirkulasi ekonomi yang seimbang dari atas ke bawah, berputar ke bawah dan naik ke atas lagi.

Cinta dan kasih sayang antar sesama muslim sekaligus ditindak lanjuti dengan proses-proses muawanah, ta’awun antar mereka. Proses tolong menolong ini telah digariskan hanya pada pertolongan yang baik bukan dalam kemaksiyatan ataupun kedurhakaan. Rasul menyatakan dalam proses tolong menolong ini menjadi salah satu puncak keimanan seseorang, yakni proses seorang anak muslim yang siap memberikan apa yang terbaik bagi sesama muslimnya. Bahkan Rasul menegaskan : “Tidak disebut sebagai mukmin yang kuat dan hebat, apabila dia belum mampu memiliki jiwa empati terhadap jiwa saudaranya laksana jiwanya sendiri”. Setiap mukmin dengan mukmin yang lain hendaknya selalu ada dalam suasana yang penuh dengan cinta kasih, tolong menolong dan menghindari segala bentuk yang dapat merusak persatuan dan kesatuan umat Islam. Salah satu bentuk nyata tidak lain apabila muncul arogansi di antara sesama umat Islam, arogansi ini sangat luas tidak saja pada persoalan keilmuwan tetapi bisa bersumber dari harta, kedudukan, keyakinan dan lain sebagainya.

Kita mesti senantiasa berlemah lembut, sopan santun, penuh dengan adab dan sekiranya kita dipancing untuk berpecah maka kita jawab dengan penuh kedamaian sebagaimana ilustrasi Allah SWT di dalam surat Al Furqan/25 : 63 yang artinya :

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan”.

Hamba Allah yang terkasih adalah mereka yang berjalan di atas muka bumi ini dengan penuh kesantunan, simpatik, jauh dari kesombongan dan sekiranya diprovokasi untuk berpecah, merusak satu dengan yang lain maka direspons dengan sejuk dalam rangka menuju pada kedamaian kehidupan.

Khulashoh dari uraian di atas adalah bahwa setiap orang yang bertakwa tidak ada pilihan lain kecuali harus terus meningkat ketakwaannya setiap saat sampai ajal menjelang, selalu dituntun supaya mampu membangun masa depan yang baik dan masa depan yang terbaik adalah capaian kita dalam memperoleh ridho Allah SWT. Dan setiap capaian tertinggi ini membutuhkan aspek fasilitatif yakni sebuah tata kehidupan yang damai, baik secara eksternal maupun internal sehingga pada akhirnya setiap muslim benar-benar akan menjadi khaira ummah “the best example of society”, menjadi contoh terbaik bagi masyarakat dunia. Kita berdoa kepada Allah SWT, semoga kita termasuk kategori “khaira ummah”.Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. *****

 

—————————————–

*) Dr. HM. Navis Junalia, MA.; Dosen Pasca Sarjana & Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang