H A K I K A T H I D U P Oleh : Abah Mustaghfiri Asror *)

Alhamdulillah, kita senantiasa mendapat bimbingan dari Allah swt menuju hidup dan kehidupan yang lebih sempurna, baik sempurna lahiriyah maupun sempurna batiniyah. Saat ini kita diberi kemudahan oleh Allah swt dapat bersama-sama berkumpul di “Baitullah” ini hanya semata-mata memenuhi panggilan Allah dalam surat Al Jumu’ah/62 : 9 ialah shalat Jum’at dengan segala rangkaiannya.
Semoga dengan berbagai macam ibadah, baik yang sudah kita laksanakan, yang sedang kita laksanakan dan yang akan kita laksanakan seluruhnya diterima oleh Allah swt sebagai “amalan shalihan maqbulan” yang mampu menghantarkan kita memperoleh prestasi yang besar, ialah menjadi orang yang bertakwa ke hadirat Allah swt. Amin.

Allah swt Maha Rabb tiada henti-hentinya memberikan bimbingan kepada hamba-Nya yang berpredikat “fii ahsani taqwiim” menuju hidup dan kehidupan yang sa’adah di dunia dan sa’adah di akhirat. Bimbingan Allah menuju kehidupan “sa’adah fid daroini” itu antara lain diabadikan dalam ayat 24 surat Al Anfal/8 yang berbunyi :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”.
Berbicara tentang hidup atau kehidupan, makhluk Allah swt yang memiliki predikat hidup ini ternyata arti/makna hidup mereka satu sama lainnya berbeda, lihat saja hidup dan kehidupan makhluk hayawan (hewan/binatang) tidak sama dengan hidup dan kehidupan makhluk jamadi (benda padat), juga berbeda dengan hidup dan kehidupan nabati (tumbuh-tumbuhan).
Kita pastikan bahwa hidup manusia dengan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya sebagaimana tertera dalam ayat 24 surat Al Anfal/8 adalah sama sekali berbeda dengan hidup dan kehidupan makhluk lainnya. Tentang sesungguhnya apa makna hidup bagi manusia ini, seorang penyair Mesir berdendang :

“Hidup manusia bukan diukur dengan berkembang kempisnya nafas, tetapi hidup ada aqidah dan jihad”.

1. A Q I D A H
Akidah adalah masalah yang fundamental dalam Islam, akidah menjadi titik tolak dalam Islam. Kalau Islam ditamsilkan sebagai bangunan, maka akidah adalah sebagai pondasinya. Kokoh atau tidaknya sebuah bangunan sangat ditentukan oleh kuat atau tidaknya pondasi.
Akidah yang dimaksud di sini adalah sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah saw sebagai berikut :

Artinya : “Iman itu ialah iman kepada Allah, Malaikat Allah, Kitab Allah, bertemu dengan Allah, iman kepada Rasul-Rasul Allah dan iman kepada kebangkitan”. (HR. Bukhari-Muslim)
Begitu sangat pentingnya akidah bagi kehidupan manusia sehingga diabadikan dalam bentuk syair (agar mudah diingat), yang berbunyi :

“Pertama kali yang wajib diketahui oleh manusia ialah mengenal Allah dengan seyakin-yakin nya”.
Akidah inilah yang diperjuangkan oleh Rasulullah saw selama 13 (tiga belas) tahun di Mekah, sedangkan memperjuangkan syariah cukup 10 (sepuluh) tahun yakni selama di Madinah.

1. J I H A D
Tentang jihad, kalau sampai sekarang masih ada orang yang memahami jihad dengan maju ke medan perang dengan bersenjata lengkap itu insya-Allah tidak benar. Kalaupun perang dengan senjata, adu kekuatan fisik itu termasuk jihad, harus diingat bahwa itu adalah “Jihad Asghor” (jihad kecil), sedangkan jihad yang besar atau Jihad Akbar adalah “Jihadun Nafsi” (jihad melawan, menundukkan, dan menguasai nafsu). Hal ini sejalan dengan pernyataan Rasulullah saw selesainya beliau dan tentara Islam pulang dari perang Badar :

“Baru saja kita pulang dari jihad yang kecil menuju ke jihad yang lebih besar”.

Jihadul akbar atau jihad besar bukan berarti dilakukan dengan biaya yang besar “tidak”, justru jihadul akbar pelaksanaannya hanya dengan biaya dan resiko yang kecil, yang besar adalah tekadnya, semangatnya, atau niatnya. Realita menunjukkan masjid atau musholla mana yang ketika jamaah shalat Shubuh jamaahnya lebih banyak bila dibandingkan dengan shalat berjamaah selain Shubuh ? kalaupun ada, maaf barangkali jumlahnya sangatlah sedikit.
Ini artinya semangat jihad orang Islam melawan tidur sedang mengalami erosi. Semangat tidurnya mengalahkan “Hayya ‘alas sholah, hayya ‘alal falah”, padahal oleh sahabat Bilal sudah ditekankan dengan tambahan “Ash sholatu khoirun minan naum” (Sholat itu jauh lebih baik dari pada tidur).
Realita inilah yang kemudian digunakan oleh kafir dengan sesumbarnya : “Kami baru akan takut kepada orang Islam, kalau jamaah shubuhnya, semangatnya, banyaknya sama dengan jamaah shalat lainnya”.

2 (dua) syarat hidup bagi muslim harus akidah dan jihad, akidah sudah diberikan Allah kepada manusia sejak lahir, artinya semua orang sudah dibekali dengan akidah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw yang berbunyi :

Artinya : “Setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah (suci)”. (HR. Al Aswad bin Sari’)
Kalau akidah sudah diberikan kepada kita sebagai modal hidup, maka jihad adalah upaya untuk mengoperasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, menjabarkan jihad dalam bentuk amaliyah sholihah inilah sebagai jihad akbar. Bila seseorang tidak mau berjihad akbar dalam bentuk memenej nafsu, untuk beramal salih, sangat dikhawatirkan modal akidah yang diberikan oleh Allah swt akan hilang musnah tanpa bekas yang berarti. Na’udzu billah tsumma na’udzu billah.

Sebagai khulashoh khutbah ini, agar hidup dan kehidupan kita ini sesuai dengan petunjuk Allah swt, marilah kita berjihad dengan memenej nafsu ammarah kita, mengarahkan nafsu lawwamah kita menuju ke nafsu muthmainnah, yang pada gilirannya nanti kita akan dipanggil oleh Allah swt dengan panggilan-Nya yang sangat mesra, yakni :

Artinya : “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam syurga-Ku”. Amin Amin Amin ya Robbal ‘alamin. *****