FADHILAH BULAN DZULHIJJAH Oleh : Dr. H. Noor Achmad, MA. *)

Khutbah Jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima Semarang, tanggal 04 Oktober 2013 M / 28 Dzulqa’dah 1434 H                                                            

Kita terus diingatkan oleh Allah swt untuk senantiasa meningkatkan takwa kepada-Nya sampai pada tingkatan takwa yang sebenar-benarnya karena hanya dengan jalan itulah kita bisa kembali kepada Allah swt dalam keadaan Islam, artinya insya-Allah dalam keadaan selamat dan menempati surga Allah swt.

Kita telah memasuki bulan Dzulhijjah, di mana Allah swt telah menyebutkan melalui firman-Nya yang berbunyi :

Artinya : “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirikamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS. At Taubah/9 : 36)

Ke 4 (empat) bulan yang mulai itu adalah : Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Saat ini kita telah memasuki bulan Dzulhijjah 1434 H, di mana ada beberapa keistimewaan di dalamnya, antara lain :

1) Disyariatkan bagi yang mampu untuk melaksanakan qurban;

Kita ketahui bersama bahwa disyariatkannya ibadah qurban tidak lain adalah bagaimana upaya seorang muslim untuk terus meningkatkan ketakwaannya kepada Allah swt melalui kesyukurannya menyembelih binatang qurban. Namun yang dinilai bukanlah sembelihan maupun aliran darahnya, tetapi ketakwaannya kepada Allah swt. Pengorbanan seseorang dengan menyembelih hewan qurban ini kelak di kemudian hari namanya akan diabadikan oleh Allah swt. Dan itulah mengapa Nabiyullah Ibrahim As dan putranya (Ismail As) selalu disebutkan dengan “watarakna fihil akhirin”, ini karena pengorbanan beliau yang sangat luar biasa dalam menegakkan agama Allah. Firman Allah yang lain menyebutkan : “Salaamun ‘ala Ibrahim”, begitu pula terhadap Nabi-nabi yang lain.

Bertepatan dengan tanggal 5 Oktober sebagai Hari Ulang Tahun TNI ke-68, di mana TNI telah banyak mengorbankan dirinya dalam membela negara dan bangsa ini. Selagi pembelaannya sampai dengan sekarang ditujukan demi bangsa dan Negara serta semata-mata karena Allah swt, maka insya-Allah sampai kapanpun TNI akan selalu diabadikan namanya dan bahkan akan memperoleh keselamatan dari Allah swt.

2) Disyariatkan kepada kita untuk menunaikan ibadah haji bagi yang mampu;

Dari tahun ke tahun minat kaum muslimin dan muslimat untuk menunaikan ibadah haji sangat tinggi, bahkan waiting list sampai kira-kira 15 (lima belas) tahun yang akan datang baru bisa menunaikan ibadah haji. Subhanallah. Hal ini tidak saja di negara kita, tetapi hampir di semua Negara. Ini merupakan gerakan ketaatan yang luar biasa oleh umat Islam di Indonesia dan ini berarti bahwa orang tersebut benar-benar mematuhi apa yang diperintahkan oleh Allah swt dan haji adalah wajib bagi mereka yang mampu melaksanakannya. Bahkan Rasulullah saw bersabda yang maksudnya : “Jika ada orang yang mampu menunaikan ibadah haji tetapi dia tidak segera melaksanakannya, maka dikhawatirkan matinya kelak tidak dalam keadaan Islam”.

Dalam bulan Dzulhijjah ini terdapat pula 10 (sepuluh) hari yang istimewa, yakni : 10 (sepuluh) hari pertama. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Fajr/89 : 1-2 yang berbunyi :

Artinya : “Demi fajar. Dan malam yang sepuluh”.

Para ulama berpendapat bahwa malam yang sepuluh itu ialah malam 10 (sepuluh) terakhir dari bulan suci Ramadhan. Dan ada pula yang mengatakan 10 (sepuluh) yang pertama dari bulan Muharram termasuk di dalamnya hari Asyura. Dan ada pula yang mengatakan bahwa malam 10 (sepuluh) itu ialah 10 (sepuluh) malam pertama bulan Dzulhijjah.

Apa yang mesti kita lakukan pada 10 (sepuluh) hari pertama bulan Dzulhijjah ini ? Sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah saw melalui sabdanya : “Pada 10 (sepuluh) hari pertama di bulan Dzulhijjah kita dianjurkan untuk memperbanyak membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir”.

Di samping itu dalam sebuah hadits yang lain disebutkan : “Pada bulan ini (Dzulhijjah) manakala kita melakukan ibadah puasa dan memperbanyak ibadah maka nilainya sama dengan jihad fi sabilillah”. Bahkan disebutkan pula dalam hadist ini bahwa orang yang melakukan ibadah pada 10 (sepuluh) hari pertama di bulan Dzulhijjah maka nilai pahalanya masih lebih tinggi dibandingkan dengan jihad fi sabilillah. Subhanallah.

3) Disyariatkan untuk melaksanakan puasa Arafah;

Suatu ketika Rasulullah saw pernah ditanya tentang puasa Arafah : “Manakala kita mampu melaksanakan puasa Arafah dengan keikhlasan maka akan mampu menghapus dosa kita setahun sebelum dan sesudahnya”. Disebutkan pula bahwa : “Pada hari Arafah itu jika seseorang mengabdikan sepenuhnya ke hadirat Allah sebagaimana apa yang dilakukan oleh jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah, maka insya-Allah akan dibebaskan dari api neraka”.

Inilah gambaran keistimewaan bulan Dzulhijjah yang sungguh luar biasa nilai dan pahalanya. Dengan ketulusan dan keikhlasan, mudah-mudahan apa yang kita lakukan memperoleh pahala sebagaimana apa yang sedang ditunaikan oleh jamaah haji di tanah suci.

Kemudian yang perlu kita perhatikan dalam menunaikan ibadah qurban adalah jangan sampai kita memperlihatkan nilai materialnya, tetapi justru nilai spiritualnya. Allah swt memberikan dorongan kepada kita melalui firman-Nya yang berbunyi :

Artinya : “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa : “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa : “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya”. (QS. Al Baqarah/2 : 200-202)

Adalah menjadi kebiasaan orang-orang Arab Jahiliyah setelah menunaikan haji lalu bermegah-megahan tentang kebesaran nenek moyangnya. Setelah ayat ini diturunkan, maka memegah-megahkan nenek moyangnya itu diganti dengan dzikir kepada Allah. Dan inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang muslim.

Doa sapu jagat di atas menjadi sentral dari ayat tersebut, karena memberikan perhatian kepada kita, jangan sampai berdoa hanya untuk kepentingan duniawi saja dan meninggalkan yang ukhrawi. Di samping itu jangan sampai kita berpaling pada hal-hal yang bersifat materialistik dan hedonistik, namun meninggalkan hal-hal yang bersifat spiritual. Seperti kita ketahui bersama bahwa akhir-akhir ini budaya dari barat begitu dahsyat masuk hampir ke setiap negara termasuk negara kita, bahkan memasukkan perilaku-perilaku dalam kehidupan pemuda-pemuda Islam. Sehingga barangkali dapat dikatakan bahwa peredaran narkoba dan sejenisnya itu memang sengaja didesign untuk menghancurkan para pemuda Islam.

Di beberapa negara seperti : Thailand, Philipina, bahkan di Arab Saudi ternyata para pemudanya ditemukan banyak mengkonsumsi narkoba, oleh karena itu hal ini perlu kita waspadai bersama, jangan sampai para pemuda kita terjerumus ke dalam jaringan narkoba dan sejenisnya. Sebagai komunitas muslim kita harus terus berupaya memegang prinsip tauhidul ummat (kesatuan umat), khimayatul ummat (menjaga umat), dan takhbiyatul ummat. Jika hal ini tidak kita lakukan maka berbagai macam budaya akan mudah menerobos ke dalam kehidupan kita semua.

Oleh karena itu marilah kita tingkat mantapkan amaliah kita di bulan Dzulhijjah ini sebagai investasi kita di akhirat kelak dan mudah-mudahan kita mampu memaknai bulan Dzulhijjah ini secara material maupun spiritual dan dalam konteks pemikiran ataupun keimanan kepada Allah swt.

Rasulullah saw pernah bersabda yang maksudnya : “Jika sudah memasuki hari Mina maka hari itu adalah hari dimana kita bisa makan dan minum setelah kita berpuasa, mengencangkan perut, dan berserah diri di hadapan Allah swt”.

Mudah-mudahan Allah swt memberikan kekuatan lahir dan batin sehingga kita mampu mengamalkan amal-amal kebajikan di bulan Dzulhijjah ini. Amin ya Rabbal ‘alamin. *****

============================

*) Dr. H. Noor Achmad, MA.; Rektor Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) Semarang.