EGALITERIANISME DALAM ISLAM MEMBENTUK PRIBADI MUSLIM YANG TOLERAN DEMI MENJAGA KEUTUHAN NKRI Oleh : Drs. H. Farhani, SH. MM. *)

 

Alhamdulillah segala puja dan puji milik Allah SWT, Allah Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Pengasih tidak pilih kasih. Begitu banyak nikmat yang kita rasakan dan marilah kita mensyukurinya dengan banyak melakukan ibadah kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada   Nabi   Muhammad   SAW   keluarga dan para sahabatnya, bertakwalah kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, dengan berlomba-lomba dalam beramal salih serta jangan berbuat kerusakan di atas bumi ini dengan berbuat dzalim kepada sesama, senantiasa menjaga semangat persatuan dan kesatuan demi keutuhan bangsa dan negara kita, sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang suka aniaya, dzalim dan berbuat kerusakan yang bisa mengkoyak nilai-nilai keutuhan bangsa dan negara ini.

Dalam kurun waktu terakhir di penghujung tahun 2017 umat Islam khususnya di Indonesia digegerkan dengan rentetan peristiwa yang berbau radikalisme dan intoleransi dengan mengatasnamakan agama Islam, konflik interest antar umat beragama dan intern umat beragama begitu gampang tersulut ke permukaan, yang mengakibatkan sendi-sendi keutuhan NKRI menjadi sedikit terkoyak, padahal hakekatnya Islam sebagai agama yang selama ini kita yakini bersama adalah agama yang mampu menebarkan keselamatan, kesejahteraan dan kedamaian bagi pemeluk dan masyarakat sekitarnya meskipun berbeda agama dan keyakinan.

Dari semangat dasar inilah seharusnya kita bersama  harus  senantiasa  mengedepankan  sikap  yang memandang sesuatu atau seseorang itu sederajat, tidak menganggap rendah dan tidak diskriminatif, dari sikap ini akan lahirlah perilaku sosial yang  tidak memandang manusia dari jenis kelamin, asal usul etnis, warna kulit, latar belakang sosial, ekonomi dan sebagainya.

َ

Sikap persamaan ini dalam konteks sekarang sering disebut dengan faham egaliterianisme, faham ini sesungguhnya refleksi dari sikap tauhid yang dimanifestasikan dalam ukhuwah yaitu prinsip yang menekankan nilai kebersamaaan dengan bingkai rasa tanggung jawab dalam menjalani hidup dan kehidupan di tengah perbedaan, sebagaimana Firman Allah. Dalam QS. Al Hujurat/59 : 13 yang artinya :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikankamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Ayat ini memuat pesan Islam  tidak mengenal perbedaan karena hakekat perbedaan terletak pada ketaqwaan dan keimanan kepada Allah SWT. Ayat ini juga mengajarkan kepada kita hakekat penghargaan didasarkan atas prestasi bukan prestise, seperti fanatisme keturunan maupun kesukuan ataupun kelompok, Indonesia sebagai negara besar tumbuh dan berkembang tidak diatas monolitik agama, suku, ras dan bahasa tetapi sebaliknya diatas keragaman budaya, suku, ras dan bahasa.

Di awal tahun 2018, melalui mimbar khutbah ini bersama mari kita serukan semangat menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan NKRI, jangan jadikan Negara tercinta kita harus terkoyak persatuannya karena alasan pengamalan ajaran agama, jadikan apa yang sudah terjadi di Negara-negara Islam di kawasan timur tengah seperti; Irak, Mesir, Yaman, Sudan dan  Tunisia dan seterusnya menjadi bahan renungan, karena alasan perbedaan perdamaian menjadi hilang, konflik dan peperangan menjadi tontonan setiap waktu, kecintaan atas Negara menjadi kabur yang muncul hanya ego dan kepentingan, tentu kita bersama tidak menginginkan hal tersebut terjadi di Indonesia tanah air tercinta kita.

Menjadikan NKRI dengan cara pandang yang harus sama  dalam  keberagamaan,  dalam  berbudaya,  dalam berinteraksi adalah pengingkaran atas pesan perjuangan para pendiri bangsa dan ini sesungguhnya juga bertentangan dengan prinsip dasar nilai-nilai ke-Islaman yang Rahmatal lil ‘aalamin sebagai ajaran suci yang di bawa oleh baginda Rosul Muhammad SAW, mencintai negara dengan semangat menjaga keutuhan bangsa dan negara dalam bingkai perbedaan sungguh menjadi nilai tambah keimanan kita bersama, sebagaimana slogan ulama terdahulu yang artinya :

“Mencintai negara sebagian dari iman.”

Semangat membangun kerukunan beragama dalam bingkai NKRI semestinya menjadi semangat bersama yang tidak hanya menjadi milik perseorangan atau kelompok ormas tertentu, keutuhan bangsa ini sebenarnya buah manis dari pemaknaan nilai dan ajaran agama yang benar, perbedaan adalah sunnatulloh tetapi bagaimana menjadikan perbedaan sebagai potensi khasanah keberagamaan dan kebangsaan senantiasa harus ditumbuh-suburkan dalam setiap warga negara yang menjadi tujuan bersama. Pendekatan egaliterianisme menjadi salah satu alternatif yang bisa dikembangkan karena akan melahirkan sikap dalam memaknai maraknya konflik horizontal di tengah masyarakat dengan dalih perbedaan keyakinan aqidah, perbedaan nilai-nilai pemahaman agama sekali lagi tidak hanya menjadi komoditi kelompok tertentu yang ingin memecah belah bangsa ini. Dengan demikian, kita akan bisa mengelola perbedaan ini menjadi harmonisasi yang indah dalam menghantarkan setiap warga negara menuju kehidupan yang tentram dan damai. Tidak sebaliknya malah menjadi pemicu gesekan konflik yang berujung pada tindakan radikalisme, terorisme dan sejenisnya yang bisa merusak sendi-sendi kerukunan umat manusia di negara tercinta ini.

Lebih lanjut refleksi dari sikap egaliter akan mampu membentuk karakter muslim yang toleran, dalam konteks kehidupan beragama berarti menghormati dengan sikap saling memahami dan mengerti berdasarkan ajaran Islam, dengan sikap ini pula menjadi peneguhan dan afirmasi bahwa Islam adalah agama yang mengandung pesan kemaslahatan, keselamatan dan perdamaian, agama yang menolak kerusakan, kekerasan, kebencian dan konflik. agama yang selalu berorientasi pada tujuan kebangsaan yaitu menjaga keutuhan NKRI.

Toleransi dan lapang dada sangat diperlukan dalam beragama, betapa tidak?  Keragaman dan perbedaan pendapat akan selalu muncul ke permukaan, dengan sikap ini akan bisa menghindari ketersinggungan dan pemaksaan antar sesama umat manusia. Sisi lain, dengan toleransi akan menghindari sikap egoisme dalam diri dan kelompok. Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Ali Imron : 159 yang artinya :

Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada Nya.” (QS. Ali Imron : 159)

Dari ayat ini semakin memberikan gambaran kepada kita bersama apabila membangun hubungan kemasyarakatan dan keberagamaan sesama warga negara dengan sikap kasar lagi keras hati, orang akan antipati terhadap nilai-nilai kebaikan yang kita sampaikan dan kita perkenalkan. Maka yang terjadi bukan pesan perdamaian tetapi sebaliknya pesan permusuhan dan egosentris antar kelompok dan pribadi. Ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan Rosul kita Muhammad mengedepankan prinsip kebebasan memeluk agama, memulyakannya, menghargai kehendaknya, pemikirannya dan perasaannya. Islam mengutamakan kebebasan sesuai kaidah dan norma dan melindungi haknya sebagai manusia. Agama boleh menawarkan jalan kebenaran tetapi tidak boleh merasa paling benar, agama boleh menawarkan kemenangan tetapi tidak dengan ancaman dan intimidasi, agama boleh menawarkan gagasan maupun ide tetapi tidak dengan hujatan dan serapah yang bisa merusak sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa.

Akhirnya melalui mimbar khutbah ini khotib ingin tegaskan sekali lagi, bahwa toleransi atau membiarkan orang lain berbeda merupakan nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, melalui nilai kebebasan, penghargaan, penghormatan, itu semua merupakan sikap dari egaliterianisme. Dengan mengedepankan sikap ini keutuhan bangsa dan negara yang kita cita-citakan bersama dalam bingkai perbedaan akan pasti terwujud, dan tujuan bangsa ini mensejahterakan setiap warga negara apapun agama, suku, ras dan bahasa menjadi sesuatu yang nyata tidak hanya menjadi retorika kebangsaan, lebih lanjut impian mewujudkan baldatun thoyyibatun wa Robbun ghofur” tidak hanya menjadi hiasan bait do’a tetapi inilah potret sesungguhnya bangsa kita.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan kepada kita bersama untuk bisa menjadi pribadi muslim yang mengedepankan toleransi, dengan merangkul semua komponen masyarakat meskipun dengan latar belakang yang berbeda, dan menjadikan diri kita sebagai pribadi yang ikhlas menerima perbedaan sebagai khasanah menuju kejayaan Islam serta keutuhan bangsa dan negara kita tercinta. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. Wallahu a’lam bishowab. *****

 

=========================

*) Drs. KH. Farhani, SH. MM.; Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Tengah