AL QUR’ANUL KARIM SEBAGAI PETUNJUK BAGI UMAT MANUSIA Oleh : Dr. H. Noor Achmad, MA. *)

Marilah kita senantiasa bersyukur ke hadirat Allah SWT bahwa tahun ini masih diberi kesempatan menjalankan ibadah puasa, mudah-mudahan kita mampu menyelesai-kannya dengan baik mendapatkan berkah dan ridho Allah SWT, untuk kemudian diberi kesempatan lagi untuk menjalankan ibadah puasa pada tahun-tahun yang akan datang. Aamiin.

Dalam bulan puasa ini mari kita manfaatkan betul untuk konsentrasi hanya kepada Allah SWT bahwa ibadah yang kita lakukan ini semata-mata hanya mengharap ridho-Nya, hanya dengan cara itulah insya-Allah kita akan mendapatkan predikat “Muttaqin”. Predikat inilah yang kelak akan membawa keselamatan dunia akhirat dan pada akhirnya menghantarkan kita menjadi penghuni surga.

Setiap bulan Ramadhan tiba kita sering mendengar firman Allah yang disampaikan oleh para muballigh, ayat tersebut artinya :

“(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”. (QS. Al Baqarah/2 : 185)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa pada bulan Ramadhan inilah Allah SWT menurunkan Al Qur’an yang dimaksudkan sebagai petunjuk tidak saja bagi umat Islam, tetapi bagi seluruh umat manusia dan sekaligus menjelaskan bahwa Al Qur’an adalah sebagai pembeda antara yang haq dan yang bathil.

Saat ini Al Qur’an mulai digandrungi oleh banyak fihak untuk mempelajarinya, termasuk juga orang-orang non muslim. Beberapa waktu yang lalu khatib bertemu dengan salah seorang Imam di New York AS bernama “Syamsi Ali”, beliau bercerita bahwa saat ini banyak sekali orang Amerika yang mempelajari Al Qur’an dan bahkan hampir setiap hari rata-rata ada 2 (dua) orang masuk Islam. Artinya bahwa Al Qur’an telah banyak menerangi orang-orang di daratan Amerika, oleh karena itu mudah-mudahan hal ini benar-benar menjadi petunjuk bagi mereka karena ini memang yang kita harapkan. Dengan Al Qur’an maka akan mampu mempersatukan seluruh umat manusia di dunia ini.

Imam Syamsi Ali juga bercerita banyak orang yang semula mempelajari kitab-kitab lain, kemudian membandingkannya dengan Al Qur’an lalu mereka bilang Al Qur’an memang tidak ada duanya dan tidak ada bandingannya. Jika sekarang ini banyak orang yang gandrung mempelajari Al Qur’an, kemudian dijadikan sebagai rujukan dalam kehidupan mereka maka barangkali kita mesti melakukan introspeksi pada diri kita, keluarga, dan lingkungan kita masing-masing; apakah Al Qur’an sudah benar-benar kita jadikan rujukan dalam kehidupan kita sehari-hari ?. Apakah Al Qur’an sudah kita pelajari secara mendalam atau hanya untuk pajangan rumah semata atau hanya sekedar kita dengarkan saja pada saat dilantunkan ?. Sungguh ironis, manakala kita sebagai umat Islam tidak pernah menyentuh apalagi mempelajarinya, atau bahkan mungkin ada juga yang sama sekali tidak pernah membaca-nya sekalipun di rumahnya terdapat banyak Al Qur’an. Di berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar umat Islam di Indonesia belum mampu membaca Al Qur’an dengan baik apalagi mempelajari dan mematangkan dengan kajian-kajiannya.

Oleh karena itu, marilah kita jadikan puasa ini sebagai media dakwah yakni kembali pada            Al Qur’an bahwa Al Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Jika kita mendapatkan petunjuk dari Al Qur’an maka sebagaimana kita membaca surat Al Fatihah sebanyak 17 (tujuh belas) kali setiap kita melaksanakan shalat, di situlah kita selalu menengadahkan tangan berdoa ke hadirat Allah SWT guna mendapatkan petunjuknya yakni kalimat “Ihdinash shirathal mustaqiim. Shirathal ladziina an’amta ‘alaihim. Ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalliin”.

Tidak ada kata lain kecuali kita mohon kepada Allah agar diberi petunjuk/jalan yang lurus. Lalu apakah jalan yang lurus itu ?. Yakni dengan mengkaji dan memperdalam Al Qur’an. Firman Allah di dalam surat Al Baqarah/2 : 1-2 yang artinya :

“Alif laam miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”.

Secara khusus pada ayat ini mengandung arti bahwa Al Qur’an adalah petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Maka, di bulan yang sangat mulia inilah saat yang paling tepat bagi kita untuk mengkaji, memahami, dan memperdalam Al Qur’an. Dengan demikian maka insya-Allah apa yang kita lakukan ini akan menjadi bagian dari syiar Islam yang luar biasa, tidak saja di Amerika tetapi di Eropa dan Rusia Islam berkembang dengan sangat pesat. Di Rusia banyak sekali penduduk pribumi yang masuk Islam lantaran mendengar bacaan Al Qur’anul Karim dan sekaligus setelah mereka membaca terjemahannya, hal inilah yang menjadikan mereka tertarik untuk terus mempelajari dan bahkan masuk Islam. Ini bukti mereka telah mendapatkan petunjuk (hudan lin naas) dari Allah SWT.

Alhamdulillah kita sejak lahir telah dibekali hidayah berupa iman dan Islam, sehingga kita memiliki pegangan hidup dan mati yakni Al Qur’anul Karim. Terdapat + 104 kitab suci yang diturunkan oleh Allah dan hanya 4 (empat) yang wajib kita imani, 3 (tiga) kitab suci yakni : Taurat, Zabur, dan Injil diturunkan secara utuh tetapi Al Qur’anul Karim diturunkan oleh Allah SWT secara bertahap dan berangsur-angsur dalam kurun waktu + 23 (dua puluh tiga) tahun, hal ini dimaksudkan agar kaum muslimin mampu mendalami apa yang terkandung di dalam Al Qur’an secara baik.

Disamping itu Rasulullah SAW adalah Nabi terakhir dan diutus oleh Allah sebagai Rahmatan lil ‘aalamiin, maka Al Qur’an diturunkan sesuai dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat sehingga Al Qur’an akan mampu mengikuti situasi dan kondisi sampai hari kiamat tiba dan Al Qur’an tidak akan usang dimakan waktu. Hal ini mengandung arti bahwa petunjuk itu (Al Qur’an) akan selalu ada dan terus hidup.

Begitu hebatnya Al Qur’an sehingga siapa saja yang membacanya diberi nilai pahala per huruf dengan 10 (sepuluh) kali lipat, artinya Allah SWT dan Rasulullah SAW memberikan motivasi dan apresiasi yang sangat tinggi kepada hamba-Nya. Sebagaimana sabda Rasul yang maksudnya : “Sebaik-baik dari kita adalah yang mau mempelajari dan mengajarkan          Al Qur’an”. Artinya Rasulullah SAW mengingatkan kepada kita untuk memegang erat            Al Qur’an sebagai pedoman hidup mati kita karena akan mampu menjadi sinar penerang bagi kita di dunia dan akhirat kelak.

Demikian, semoga ada manfaatnya dan mudah-mudahan kita menjadi ahli-ahli Qur’an serta menjadi ahli surga karena cinta Al Qur’an.Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. *****

————————————–—-

*) Dr. H. Noor Achmad, MA.; Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia & Sekretaris Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat