AL QUR’AN SEBAGAI HUDAN LINNAS Oleh : Drs. H. Moh. Ahyani, M.S.I *)

            Kaum muslimin jamaah Jum’ah yang dirahmati Allah;

Puji dan syukur mari senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sampai saat ini kita masih dalam lindungan Allah, sehat wal ‘afiat dapat melaksanakan tugas dan kewajiban kita sebagai hamba Allah, lebih dari itu mari kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah dengan takwa yang sesungguhnya, artinya bukan takwa yang hanya sekesar kamuflase, bukan takwa yang hanya saat berada di tengah-tengah keluarga maupun saat kita sedang berada di tempat yang suci seperti sekarang ini, akan tetapi takwa yang haqqo tuqotih di manapun dan kapanpun kita berada.

            Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah

Allah telah mewajibkan kepada kita untuk mengimani kita-kitab suci sebagai salah satu rukun iman. Mengimani kitab-kitab suci selain kepada Al Qur’an adalah mempercayai dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa yang berisi petunjuk jalan kebaikan bagi umat Nabi Musa, iman kepada kitab Zabur adalah mengimani dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menurunkan Kitab Zabur kepada Nabi Dawud yang berisi petunjuk jalan kebaikan bagi umat Nabi Dawud, demikian juga iman kepada Kitab Injil, yakni mengimani dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menurunkan Kitab Injil kepada Nabi Isa sebagai pedoman dan petunjuk kebaikan bagi umat Nabi Isa AS.

Beriman kepada Al Qur’an sebagai sebuah Kitab Suci artinya kita bukan hanya mempercayai bahwa Allah telah menurunkan Al Qur’an sebagai kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi mengimani Al Qur’an sebagai kitab suci adalah kita harus mempercayai dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menurunkan Al Qur’an kepada umat Islam melalui Nabi Muhammad untuk menjadi kompas/arah dan pedoman bagi umat Islam dan alam semesta sampai akhir zaman agar terhindar dari kerugian dan kehancuran.

Tidak ada satupun kitab suci di dunia yang dibaca oleh beratus juta pemeluknya setiap hari, tidak ada satupun kitab suci di dunia ini yang dihafal oleh ribuan bahkan jutaan umatnya, tidak ada satupun kitab suci di dunia ini yang susunan bahasanya mengandung nilai sastra yang sangat tinggi, tidak ada satupun kitab suci di dunia ini yang masih terjaga orisinalitasnya mulai saat di mana wahyu diturunkan hingga saat sekarang ini, bahkan hingga akhir zaman. Allah SWT bahkan menjamin akan menjaga Al Qur’an hingga akhir masa, sebagaimana firman Allah surat Al Hijr : 9 yang berbunyi :

$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨“tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ

Artinya : “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”.

Akan tetapi kehebatan Al Qur’an itu bukan hanya karena banyaknya umat yang membacanya, bukan karena banyaknya umat yang menghafalkannya, bukan hanya indah susunan kalimatnya yang mengandung nilai sastra yang sangat tinggi, bukan juga karena terjaga orisinalitasnya hingga akhir zaman, akan tetapi lebih dari itu kehebatan Al Qur’an adalah karena fleksibilitas ajaran Al Qur’an yang senantiasa sesuai dengan kondisi zaman. Inilah yang disebut Al Qur’an sebagai mukjizat yang mampu melemahkan siapa saja yang berusaha untuk menandingi Al Qur’an sepanjang masa, menandingi membuat susunan redaksionalnya, prediksi-prediksi pada keadaan yang akan datang sebagaimana yang telah banyak disebut dalam Al Qur’an, menandingi dalam membuat kisah-kisah peristiwa yang terjadi pada masa lalu, bahkan berusaha untuk menolak dan menentang dengan berbagai macam cara. Allah telah menjawab tantangan orang-orang yang masih meragukan Al Qur’an secara tegas sebagaimana disebutkan dalam surat Al Baqarah : 23-24 yang berbunyi :

bÎ)ur öNçFZà2 ’Îû 5=÷ƒu‘ $£JÏiB $uZø9¨“tR 4’n?tã $tRωö7tã (#qè?ù’sù ;ou‘qÝ¡Î/ `ÏiB ¾Ï&Î#÷VÏiB (#qãã÷Š$#ur Nä.uä!#y‰ygä© `ÏiB Èbrߊ «!$# cÎ) öNçFZä. tûüÏ%ω»|¹ ÇËÌÈ bÎ*sù öN©9 (#qè=yèøÿs? `s9ur (#qè=yèøÿs? (#qà)¨?$$sù u‘$¨Z9$# ÓÉL©9$# $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÅsø9$#ur ( ôN£‰Ïãé& tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 ÇËÍÈ

Artinya : “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir”.

            Jamaah Jum’ah yang dirahmati Allah

Kehebatan dan kemukjizatan Al Qur’an yang pernah menguasai dunia pada abad pertengahan masehi tidaklah mempunyai pengaruh apa-apa bagi kemajjuan dan kejayaan umat Islam sekarang ini manakala kita sebagai pewaris ajaran Al Qur’an tidak menjadikan         Al Qur’an sebagai imam dalam kehidupan, tidak menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupannya, tidak menjadikan Al Qur’an sebagai hakim dalam menentukan arah kehidupan namun hanya menjadikan Al Qur’an sebagai pelengkap dan penghias dalam rumah-rumah kita, Al Qur’an hanya dijadikan tumbal pengusir hantu. Itulah realitas dalam kehidupan kita dan inilah yang menjadikan kondisi umat Islam, terpuruk dan direndahkan oleh umat yang lain, bahkan cenderung menjadi bulan-bulanan umat lain.

Untuk itu, guna meraih kembali kejayaan umat sebagaimana yang telah diraih oleh para pendahulu kita, para sahabat, assabiqunal awwalun, maka hendaknya kita bercermin kembali bagaimana para sahabat mensikapi Al Qur’an, bagaimana Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khattab yang tadinya saling berbantah-bantahan dan berselesih faham berubah menjadi saling berangkulan meminta dan memberi maaf secara tulus, bagaimana sahabat Tsabit ibn Qais menangis sesenggukan tidak keluar rumah selama 3 (tiga) hari 3 (tiga) malam karena khawatir tanpa disadari seluruh amal ibadahnya tidak diterima Allah lantaran mempunyai suara keras setelah turun petunjuk dari Allah tentang larangan bersuara melebihi suara Nabi, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Hujurat : 2 yang berbunyi :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#þqãèsùös? öNä3s?ºuqô¹r& s-öqsù ÏNöq|¹ ÄcÓÉ<¨Y9$# Ÿwur (#rãygøgrB ¼çms9 ÉAöqs)ø9$$Î/ ̍ôgyfx. öNà6ÅÒ÷èt/ CÙ÷èt7Ï9 br& xÝt7øtrB öNä3è=»yJôãr& óOçFRr&ur Ÿw tbrâßêô±s? ÇËÈ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari”

Kemudian Abu Tholhah menyerahkan semua kebun kurma yang menjadi tulang punggung kehidupan keluarganya untuk perjuangan Islam, bagaimana sahabat Zaid bin Harist menyerahkan satu-satunya kuda yang sangat ia sayangi untuk kepentingan Islam setelah mendengar turunnya Al Qur’an surat Ali Imran : 92 yang berbunyi :

`s9 (#qä9$oYs? §ŽÉ9ø9$# 4Ó®Lym (#qà)ÏÿZè? $£JÏB šcq™6ÏtéB 4 $tBur (#qà)ÏÿZè? `ÏB &äóÓx« ¨bÎ*sù ©!$# ¾ÏmÎ/ ÒOŠÎ=tæ ÇÒËÈ

Artinya : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”.

Inilah cermin para sahabat Nabi yang dengan penuh keyakinan dan ketulusan hati memenuhi panggilan Al Qur’an, inilah kunci kejayaan yang telah diraih pada masa lalu, mereka takut jika meninggalkan Al Qur’an aka Allah akan menyengsarakannya di dunia maupun di akhirat, sebagaimana firman Allah dalam Thoha : 124-126 yang berbunyi :

ô`tBur uÚtôãr& `t㠓̍ò2ό ¨bÎ*sù ¼ã&s! Zpt±ŠÏètB %Z3Y|Ê ¼çnãà±øtwUur uQöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# 4‘yJôãr& ÇÊËÍÈ tA$s% Éb>u‘ zOÏ9 ûÓÍ_s?÷Ž|³ym 4‘yJôãr& ô‰s%ur àMZä. #ZŽÅÁt/ ÇÊËÎÈ tA$s% y7Ï9ºx‹x. y7÷Gs?r& $uZçF»tƒ#uä $pktJŠÅ¡uZsù ( y7Ï9ºx‹x.ur tPöqu‹ø9$# 4Ó|¤Yè? ÇÊËÏÈ

Artinya : “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia : “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat ?”. Allah berfirman : “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”.

Demikian, semoga ada hikmah dan manfaatnya. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. *****

 

================================

*) Drs. H. Moh. Ahyani, M.S.I.; Kepala Bidang Penaiszawa Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah