AKIDAH DALAM MENDIDIK ANAK Oleh :H. Ateng Chozani Miftah, SE. M.Si. *)

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt atas limpahan karunia serta nikmat-Nya, sehingga alhamdulillah sampai dengan hari ini kita masih dapat melaksanakan tugas-tugas dan aktivitas kehidupan. Sesuai dengan dasar-dasar keimanan yang kita yakini, pelaksanaan tugas-tugas dan aktivitas kehidupan tersebut, kita lakukan dalam rangka upaya meraih 2 (dua) kemenangan hidup yaitu bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Itulah visi dan misi kehidupan seorang mukmin sebagaimana diarahkan Allah swt dalam firman-Nya  :

 “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al Qashash/28 : 77)

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw beserta sahabat dan keluarganya.

Sebagai upaya mendasar untuk dapat meraih 2 (dua) kemenangan hidup tersebut, marilah senantiasa kita tingkatkan takwa kita kepada Allah swt dengan sebenar-benarnya takwa, sebagaimana Allah swt berpesan :

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.(QS. Ali Imran/3 : 102)

Semangat ketakwaan sebagai upaya meraih kebahagiaan dan keselamatan di dunia juga di akhirat hendaknya tidak hanya dibangun pada diri sendiri, akan tetapi harus dibangun juga di lingkungan keluarga yang menjadi tanggung jawab kita. Demikian Allah swt memerintahkan sebagaimana tersirat dalam firman-Nya :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At Tahrim/66 : 6)

Bagian dari keluarga yang perlu mendapatkan perhatian adalah anak. Rasulullah saw mengingatkan bahwa orangtua memiliki tanggung jawab yang mendasar terhadap akan jadi apa seorang anak dalam menempuh kehidupan-nya, sebagaimana tersirat dalam sabdanya yang artinya :

“Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan suci, maka sesungguhnya orangtua nyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (HR. Muslim)

Sabda Rasulullah tersebut mengandung peringatan tentang tanggungjawab orangtua atas terbangun dan terpeliharanya akidah dari anak yang menjadi tanggungjawabnya. Hal ini dikarenakan bahwa apakah anak akan menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi, menjadi seorang Muslim sangat tergantung pada akidah yang terbangun dalam dirinya. Ketika akidahnya akidah Yahudi maka si anak akan menjadi Yahudi. Demikian pula ketika akidah si anak akidah Nasrani atau Majusi, maka si anak akan menjadi Nasrani atau Majusi. Dengan demikian, ketika si anak ingin dibangun menjadi seorang Muslim dan menjalankan ketakwaannya, maka hal yang harus ditanamkan terlebih dahulu kepadanya adalah akidah Islamiyah.

Ketakwaan berhubungan sangat erat dan tidak bisa dipisahkan dengan masalah akidah. Akidah merupakan unsur yang paling esensial dan fundamental (menjadi landasan utama) dalam membangun ketakwaan. Tidak ada ketakwaan tanpa berdasar kepada akidah. Dalam ajaran Islam, akidah merupakan aspek yang harus dimiliki terlebih dahulu, sebelum yang lain-lain. Dengan demikian membangun dan memelihara ketakwaan hendaknya harus berfondasikan terbangun dan terpeliharanya akidah.

Inti dasar dari akidah adalah kepercayaan dan keyakinan. Dalam Al Qur’an, akidah diistilahkan dengan iman. Esensi dasar dan inti dari akidah dalam Islam tersirat dan terkristalkan dalam 2 (dua) kalimah syahadah (Asyhadu an-Laailaaha IllAllah, wa Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah). Yaitu bersaksi dengan sepenuh keyakinan bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, serta bersaksi dan meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, dan tidak ada lagi ke-Nabian dan ke-Rasulan setalah kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad saw.

Tentang betapa pentingnya kedudukan akidah dalam kehidupan, Allah swt mengingatkan seperti tersirat dalam firman-Nya :

 “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. Al ‘Ashr/103 : 1-3)

Demikianlah Allah mengingatkan bahwa kemenangan (keberuntungan) hidup akan dapat dicapai melalui terpeliharanya kelurusan dan kekokohan akidah (keimanan) yang dipadukan dengan perwujudannya berupa kemampuan membangun amal salih (ketakwaan) disertai kemampuan diri untuk senantiasa dalam kebenaran dan kesabaran. Amal salih sebesar apapun tanpa dibangun di atas pondasi kelurusan akidah maka tidak akan mempunyai arti dan nilai apa-apa di hadapan Allah swt.

Oleh karena itu, dalam situasi kehidupan di mana semakin deras serta meningkatnya penyebaran faham-faham atau pandangan-pandangan yang akan merusak dan melemahkan akidah, kiranya kita perlu meningkatkan kewaspadaan diri agar kita dan juga anak serta keluarga kita tidak terpeleset bahkan terjerumus ke dalam kerusakan bahkan kesesatan akidah.

Akidah yang lurus dan kokoh akan menjadikan pijakan serta pemberi arah bagi kehidupan yang senantiasa berada dan sesuai dengan ajaran Allah, dan tidak akan mudah terpengaruh serta terjerumus ke dalam pandangan-pandangan serta ajaran-ajaran yang menyimpang dari ajaran Allah. Demikian pula akidah yang lurus dan kokoh akan memberikan pijakan yang kokoh bagi seseorang untuk senantiasa menjalankan kehidupan beragamanya sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.

Demikianlah, betapa penting dan sangat fundamenalnya penanaman akidah dalam rangka mendidik anak, agar menjadi seorang muslim yang kokoh dan memiliki semangat ketakwaan yang tinggi guna meraih kemenangan hidupnya  yakni bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin. *****

 =======================

*)H. Ateng Chozani Miftah, SE.M.Si.;Ketua I Bidang Ketakmiran YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah